Thursday, 02 October 2014
“Kita Tidak Berdaulat Dalam Ekonomi”
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Solo, 02/05/2011. Masalah ekonomi dalam negeri Indonesia adalah pasar yang dikuasai oleh negara lain. Serbuan produk luar yang masuk ke dalam negeri seperti air bah yang menerjang seolah tak terbendung.   Pemerintah  dengan terang-terangan  membuka bendungan itu lebar-lebar yang membuat produk asing masuk dengan leluasa. Akibatnya produk-produk dalam negeri banyak yang tergilas yang kemudian membunuh industri-industri  pembuatnya. Maka jadilah pasar Indonesia menjadi surga bagi produk orang lain. Dan negara ini tidak bisa menguasai pasarnya sendiri.  
 
Kita telah kehilangan kedaulatan terhadap pasar kita sendiri,” kata Presiden IIBF, Heppy Trenggono di depan pimpinan ormas dan ulama se-Solo Raya, Selasa malam. Sebelum ada pasar bebas seperti sekarang barang-barang luar masuk melalui penyelundupan. Dan itu cukup membuat industri dalam negeri kolaps. Maka ketika barang-barang itu dibebaskan melalui pasar bebas maka dipastikan akan semakin banyak industri  dalam negeri yang mati. “Ibarat pertandingan, eksport itu adalah permainan menyerang. Dan kita selama ini gawang kita selalu kebobolan dengan angka defisit yang sangat tinggi,” ungkap Heppy.
 
Semua negara menurut Heppy menahan agar produk asing tidak masuk bebas ke dalam negerinya. Caranya dengan membuat aturan-aturan yang ketat atau kebijakan yang mempersempit arus masuk produk itu. Sebaliknya mereka membuka lebar-lebar masuknya bahan baku ke dalam negeri dan mengirim sebanyak-banyaknya produknya ke luar negeri.   Indonesia justru sebaliknya, membuka pasar dalam negerinya lebar-lebar untuk produk dari luar dan mengeksport sebanyak-banyaknya bahan baku ke luar negeri. “China sekarang sudah tidak lagi mengirim kapas ke luar negeri tetapi mengirim kain atau pakaian jadi,” ungkap Heppy.   China, lanjut Heppy tahu apa yang mereka bangun dan mereka bela. Indonesia bingung dengan apa yang akan dilakukan karena tidak jelas apa yang dibela untuk negerinya. Pasar bebas yang semula  dikira akan membangkitkan ekonomi  justru meruntuhkan pasar dalam negeri   dan membuat Indonesia tidak berdaulat di pasar sendiri.
 
“Gerakan Beli Indonesia yang kita usung hari ini adalah upaya untuk mengembalikan kedaulatan Indonesia atas pasarnya sendiri.  Karena dalam situasi hari ini tidak ada satupun teori yang bisa digunakan untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia,” jelas Heppy.  Beli Indonesia, tambah Heppy, adalah membangun karakter dalam setiap rakyat Indonesia dalam membela bangsa sendiri.  Sehingga segencar apapun promosi atau iklan sebuah produk tidak akan berpengaruh jika masing-masing individu memiliki semangat pembelaan terhadap produk bangsanya. Keputusan ada di tangan kita untuk membeli atau menggunakan produk apa.
 
Dalam kesempatan itu Heppy meminta semua pimpinan ormas dan ulama yang hadir di ballroom Hotel Ryadi Palace itu untuk hadir dalam Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) yang akan di selenggarakan 22-26 Juni 2011 di Solo. “Kongres ini adalah wadah untuk mengukuhkan gerakan ini menjadi gerakan nasional yang didukung oleh seluruh rakyat indonesia,” kata Heppy.  Dalam kesempatan itu Heppy Trenggono didampingi oleh Ketua SC  KKEI, Joni Iszunaji dan Ketua OC KKEI, Adib Ajie Putra serta beberapa panitia lain yang masih setia mendengar ceramah Presiden IIBF tentang Beli Indonesia.  
 
Menjawab beberapa penanya dalam sesi tanya jawab, Heppy menjelaskan tentang pasar yang strategis untuk ekonomi negara. Pasar menurut Heppy adalah Hal yang paling strategis untuk membangun ekonomi negara. Dari pasar ini akan ekonomi masyarakat akan terbangun, dan jika perekonomian masyarakat tumbuh dengan sendiri ekonomi negara akan berkembang. “Ekonomi masyarakat dan ekonomi negara itu akan saling berkait,” jelas Heppy. Masalahnya, lanjut Heppy, bagaimana kita akan membangun ekonomi rakyat dan bangsa jika kita tidak bisa menguasai pasar sendiri. (AA)
 
Last Updated ( Tuesday, 10 May 2011 02:48 )