Indonesia Bermain Sebagai Bangsa Miskin
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Malang, 15/05/2011, Besarkah hutang Indonesia Rp, 1.700 triliyun itu? Bagaimana dengan APBN Indonesia Rp. 1.200 Triliyun? Fantastiskah angka itu?. Bagi sebagian besar orang Indonesia hari ini hutang dan APBN Indonesia sangat besar. Karena sudah puluhan tahun hutang itu tidak selesai-selasai. Bahkan untuk bayar bunganya saja Indonesia kerepotan. Bukannya berkurang, hutang itu malah makin bertambah dari tahun ke tahun.
 
Untuk negara sebesar dan sekaya  Indonesia angka-angka itu nothing,” kata Presiden IIBF, Heppy Trenggono di depan para pengusaha dan mahasiswa kota Malang. Mengapa angka itu besar? Karena kita tidak punya uang, dan mengapa kita tidak punya uang? Karena kita tidak memiliki kecerdasan untuk membangun kekayaan.   “Maka kekayaan Indonesia yang tak ternilai ini  belum bisa  membuat bangsa ini menjadi bangsa besar dan jaya. Kekayaannya justru digunakan oleh negara lain untuk membangun ekonomi bangsanya,” ungkap Heppy.

Indonesia hari masuk dalam kategori negara miskin. Sangat mudah untuk melihat Indonesia sebagai negara miskin. Karena kemiskinan tidak hanya ada di kolong-kolong jembatan tetapi sudah merangsek ke institusi penyelenggara negera. “Ketika negara lain sudah berbicara tentang pengembangan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahun lainnya kita masih berkutat pada masalah tarif dasar listrik,” kata Heppy.  Mengapa tarif dasar listrik menjadi masalah? Menurut Heppy, dinaikkan atau tidak sama-sama masalah. Jika dinaikkan masyarakat tidak bisa bayar, tidak dinaikkan pemerintah tidak punya anggaran untuk subsidi. “Jangan dikira kebijakan otonomi kampus itu adalah untuk membuat kampus mandiri da independen, bukan! Itu karena negara sudah tidak punya cukup uang untuk mendanai pendidikan kita,” jelas Heppy. 
 
Angkatan bersenjata kita, kata Heppy sudah tidak bisa lagi membeli peralatan militer baru. Bagaimana bisa negara sebesar ini menerima hibah 2 unit kapal patroli dari sebuah negara kecil yang bernama Brunei. Padahal semestinta kitalah yang harus memberi hibah kepada negara itu bukan sebaliknya. Karena kita adalah negara yang jauh lebih besar dari Brunai. “Menerima itu sikap orang miskin dan orang kaya itu selalu memberi,” ungkap Heppy. Maka tidak heran ketika bangsa ini selalu menerima bantuan dari banyak pihak karena memang negara ini adalah negara miskin, miskin ekonominya, miskin sikapnya dan miskin cara berfikirnya.   Jika seseorang yang ucapannya seperti orang miskin, sikapnya sikap orang miskin, cara berfikirnya seperti cara berfikir  orang miskin maka hampir bisa dipastikan  dia orang miskin. Nah, bagaimana Indonesia bisa dikatakan sebagai negara kaya jika perilaku dan cara bermainnya seperti cara bermain negara miskin.

Kemiskinan Indonesia semakin lengkap dalam kebijakan investasi luar negerinya. “Investasi memang sangat dibutuhkan untuk membangun negara ini. Tetapi tidak semua bidang boleh dimasuki investasi asing,” ungkap Heppy. Menurut Heppy, investasi itu adalah leverage yang membuat kita dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak ada menjadi ada atau dari yang tadinya sedikit menjadi banyak. Maka jika ada modal asing masuk ke dalam negeri dan membuat kita yang tadinya bisa menjadi tidak bisa, tadinya kita ada menjadi tidak ada, tadinya kita banyak menjadi sedikit, maka itu bukan investasi. China, lanjut Heppy, ada 500 lebih perusahaan asing yang masuk ke negara itu untuk berinvestasi membangun China. Tetapi China tahu mana yang boleh dan yang tidak boleh dimasuki investasi asing. “Kalo cuma membangun tower telepon seluler kan tidak perlu orang asing, cukup anak-anak kita sendiri. Tambang, pendidikan, pertanian mengapa harus asing?” tanya Heppy heran. 
 
Untuk membangun Indonesia, menurut CEO United Balimud Group ini, dibutuhkan puluhan triliyun, berlipat-lipat dari APBN hari ini. Untuk itu dibutuhkan cara bermain orang-orang kaya. Dalam ilmu bisnis orang kaya bermainnya tidak pada angka kecil tetapi angka besar. Dia perlu angka besar untuk membangun banyak hal mulai dari infrastruktur, pendidikan, sentra industri dan lain-lain. Cara bermain Indonesia hari ini takut dengan angka besar karena tidak bisa berfikir besar dan tidak memiliki keyakinan sebagai negara dan bangsa besar. “Keyakinan bahwa Indonesia itu sebagai bangsa besar dan jati diri sebagai bangsa besar adalah sesuatu yang hilang dari bangsa ini,” ungkap Heppy. Indonesia, lanjut Heppy tidak akan kemana-mana dan selamanya begini jika hanya bermain sebagai negara miskin.
 
Pertemuan dengan mahasiswa dan pengusaha Malang ini berlangsung di Gedung Incubator Bisnis ( INBIS ) Unibraw. Usai tanya jawab Heppy mengajak para peserta untuk bergabung dalam gerakan Beli Indonesia yang dimulai pada Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia di Solo 22-26 Juni 2011. “Beli Indonesia adalah sebuah gerakan untuk membangkitkan kejayaan ekonomi Indonesia. Beli Indonesia adalah cara terakhir ketika tidak ada lagi teori dan strategi untuk membuat Indonesia berdaulat secara ekonomi dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Heppy dengan penuh semangat. 
 
Pertemuan itu berakhir. Presiden IIBF dan tim keluar dari gedung itu usai foto bersama dengan peserta dan panitia. Aspal di ruas jalan di depan Gedung Incubator Bisnis Unibraw itu masih basah karena guyuran hujan sore tadi ketika tim keluar dari gedung itu. Waktu menunjukkan pukul 21.32 wib saat rombongan bergerak menuju ke arah Bojonegoro. (Moh. Slamet)
 
 
Last Updated ( Thursday, 19 May 2011 06:55 )