Friday, 24 October 2014
Seorang Santri di Sumatera Barat dan Buku “Menjadi Bangsa Pintar”
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail

Seorang santriwati sebuah pesanteren di Sumatera Barat menumpahkan perasaannya tentang Indonesia. Negara yang tidak banyak diketahuinya hingga dia membaca sebuah buku “Menjadi Bangsa Pintar” karya Heppy Trenggono. Berikut ini posting  asli tulisannya.

Kacamata Aida Tentang Indonesia*
Oleh : Aida



Indonesia… Indonesia  dan Indonesia. Itulah Negara kelahiranku. Negara Indonesia yang menjadi saksi bisu ketika aku menangis, ketika dilahirkan di dunia. Kujalani hidup suka dan duka, Aku tak acuh dengan keadaan sekitarku yang aku kupikirkan hanya jajan, main dan menonton. Itulah masa kecilku. Aku tak pernah tau bagaimana situasi orde baru, reformasi dan nasib seorang pejuang yang sangat berjasa bagi tanah air tercintaku ini, Soekarno. Hingga aku membaca buku “Menjadi Bangsa Pintar” (Heppy Trenggono). Entah apa yang terasa, semua bercampur menjadi satu lebih dari istilah 3 in 1. Kemiskinan yang masih merajalela, korupsi yang tak hilang ditelan zaman, pelecehan yang tak hilang dibakar api dan hanyut dibawa arus. Aku ingin menjadi presiden atau setidaknya,aku ingin jadi orang yang sangat berpengaruh di Negara. Aku ingin mengharumkan Ibu Pertiwi yang semakin hari semakin busuk. Aku ingin para pejabat untuk berlaku adil, jujur,dan melayani masyarakat. Bukan dilayani masyarakat. Karena memang itulah tugas seorang pemimpin. Aku ingin merubah nama pemerintah menjadi pengurus. Tau kenapa??? Karena Ust. Deswandi berwasiat, ”kalau kalian menjadi orang besar, hal pertama yang harus kalian lakukan adalah merubah pelafalan pemerintah menjadi pengurus. Karena pemerintah = orang yang memerintah, sedangkan pengurus = orang yang mengurus.
 
Ku slalu bertanya, kenapa Indonesia yang kaya S.D.A ini malah menjadi negara berkembang? Banyak jawaban yang bisa kita paparkan, salah satunya karena masih lepasnya tikus-tikus dari kandang, dan tidak beraninya para kucing untuk menerkam tikus yang berkeliaran.
 
Mengapa bangsa atau setidaknya para pejabat tidak bertindak keras dan tegas kepada Negara lain  yang menyakiti salah seorang warga Negara, contohnya saja TKI. Sudah begitu banyak kasus penganiayaan, pelecehan, pemerkosaan yang terjadi pada TKI dan yang dominannya adalah wanita. Kenapa kita tidak mencontoh pejabat Australia yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan 3 wraganegaranya yang akan dihukum mati karena telah membawa heroin ke Indonesia. Perjuangan pejabat itu tak pernah pupus. Mereka tak berputus asa untuk menyelamatkan warganegaranya. Mereka lakukan berbagai cara, salah satunya melobi 'Hasan Wirayuda'. Bahkan Australia akan melakukan cara apapun agar ke 3 warganegaranya tidak dihukum mati. Australia sampai berani ‘membayar’ Indonesia. Mereka siap memberikan bantuan sebesar AS $ 2,5 miliar/sekitar Rp 21,25 Triliun kepada Indonesia. Bantuan ini dalam jangka 5 tahun guna mengatasi kemiskinan. Tak hanya itu,Australia juga akan membantu 1.000 sekolah Islam di Indonesia. BAHKAN Australia juga siap meminta pengampunan ke 3 warganegaranya kepada Indonesia. Begitu perjuangan dan cintanya Australia pada warganegaranya, peristiwa ini lebih dikenal “Bali Nine”. Sedangkan Indonesia, kasus TKI saja tidak tau ujungnya bagaimana. Aku hanya berusaha mengeluarkan pernak-pernik mutiara yang sudah mulai retak dan mungkin sebentar lagi akan pecah. Trak…
 
“Bangsa Besar Menghargai Bangsanya “
“Bangsa Bodoh Mengabaikan Bangsanya”  
(Kutipan dari buku “Menjadi Bangsa Pintar” Heppy Trenggono)
 
*Judul dibuat oleh juru ketik, tapi isi dicipta oleh Aida.
 
Last Updated ( Friday, 20 May 2011 06:41 )