Tuesday, 30 September 2014
3 Kunci Membangun Karakter
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Surabaya, 15/05/2011. Ada sesuatu  yang hilang dari perbendaharaan kehidupan bangsa Indonesia hari ini.  Sesuatu yang sering diucapkan oleh banyak orang tetapi tidak dimiliki oleh bangsa ini. Sesuatu itu adalah Karakter. Tidak adanya karakter dalam kepribadian bangsa ini  membuat berbagai teori dan strategi tidak ada yang bisa berjalan dengan baik.  Orang ramai-ramai meninggalkan karakter dan bergeser ke kutub yang berlawanan, Branding atau Promotion.   Maka tidak heran ketika seseorang ingin menjadi pejabat publik, apakah itu bupati , walikota atau anggota legislatif yang dilakukannya bukan membangun karakter tetapi membangun citra dengan memasang foto dirinya di pohon-pohon dan  angkutan kota.
 
Sebelum membangun yang lain, membangun negeri ini harus diawali dengan membangun karakternya,”   kata Presiden IIBF, Ir. Heppy Trenggono , MKomp, di depan 300 lebih anggota Forum Keluarga Alumni (FKA) ESQ Surabaya, Minggu pagi. Karena  karakter akan membuat sebuah perusahaan atau sebuah bangsa memiliki masa depan. Orang-orang besar dalam sejarah adalah orang yang memiliki karakter dan memiliki komitmen untuk membangun karakter  bangsanya. Bahkan Rosulullah SAW, membawa risalah Islam adalah untuk membangun karakter ummat manusia.  Dalam ucapannya yang sangat terkenal “Sesungguhnya aku diutus kepadamu semua untuk menyempurnakan akhlak (karakter)”. 
 
Bagaimana membangun karakter? Heppy mengungkapkan ada tiga kunci untuk membangun karakter. PertamaIdentitas  atau jati diri. Identitas atau jati diri ini dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan “ siapa” diri kita. Identitas atau jati diri akan membuat seseorang menyadari siapa dirinya dan ciri-ciri apa yang harus melekat pada dirinya karena identitas itu. Seorang yang tidak sadar identitasnya sebagai seorang ayah maka dia tidak akan pernah menjadi ayah yang baik.  Demikian pula seorang yang  tidak sadar dirinya seorang pemimpin perusahaan maka dia tidak akan pernah bisa memimpin perusahaannya secara efektif. “Sama ketika Indonesia tidak menyadari dirinya adalah sebuah bangsa besar, maka dia tidak akan pernah dapat meraih kebesaran dan kejayaan seperti yang telah diraih oleh bangsa-bangsa lain di dunia,” jelas Heppy. 
 
Kedua, Nilai atau keyakinan. Nilai dan keyakinan ini dapat ditelusuri dengan menjawab pertanyaan “apa” yang kita yakini.  Yakin itu artinya sungguh-sungguh yakin bukan hanya sekedar percaya.  Orang yang mengaku percaya tetapi tidak yakin terhadap sesuatu   kemungkinan besar tidak menjalani apa yang dipercayainya itu. tetapi jika sudah menjadi keyakinan maka dia kan sangat mudah melakukan   apa yang diyakininya. Orang yang yakin bahwa sedekah akan melipatgandakan kekayaan dan memperoleh banyak kebaikan maka dengan mudah dia mengeluarkan hartanya untuk sedekah. Namun berapa banyak orang yang enggan bersedekah meskipun dia percaya bahwa sedekah itu akan mendatangkan kebaikan yang berlipat untuk dirinya. “Bangsa Indonesia harus memiliki keyakinan bahwa dirinya adalah bangsa besar  yang mampu meraih kejayaan,” kata Heppy.  Jika tidak, lanjut Heppy, maka bangsa ini tidak kemana-mana karena tidak ada energi sebagai akibat lemahnya keyakinan.
 
Ketiga, Jelas dalam pembelaan. Jelas dalam pembelaan ini dapat ditemukan dengan menjawab pertanyaan “apa” yang sungguh-sungguh kita bela. Tahun 1945 kita bisa bebas dari penjajahan karena Indonesia memiliki sesuatu yang jelas untuk dibela, yakni Merdeka.  “Kita lebih memilih mati daripada tidak merdeka. Bahkan tawaran untuk berdamai  kita tolak karena kita lebih cinta kemerdekaan,” urai Heppy. Maka, jika hari ini Indonesia tidak kemana-mana karena kita tidak memiliki sesuatu yang jelas untuk dibela. Apakah martabat bangsa? Apakah kejayaan bangsa? Atau kemandirian ekonomi? Tidak ada yang bisa menjawab karena memang kita tidak memilikinya. “Kalau martabat bangsa yang kita bela tentu kita tidak akan membiarkan anak-anak kita disiksa atau ditangkap di negara lain. Dan kalau kejayaan ekonomi yang kita bela tentu kita tidak akan membiarkan produk asing menguasai pasar dalam negeri,” ungkap Heppy.  Dengan memiliki tiga kunci itu maka karakter akan bisa dibangun. Dan jika karakter sudah ada maka membangun yang lain-lain akan sangat mudah. Menurut Heppy, sumber daya alam dan kepastian hukum sangat penting untuk sebuah negeri, namun karakter adalah segala-galanya, karena tanpa karakter yang unggul sebuah negara tidak memiliki masa depan.   
 
Acara yang digelar oleh FKA ESQ ini berlangsung di Hall PT. Kebon Agung di jalan Margorejo, Surabaya. Menjelang Zuhur acara harus diakhiri karena Presiden IIBF dan timnya akan bergerak Malang untuk menemui para pengusaha dan mahasiswa kota itu. Mochammad Slamet, tim IIBF Malang sudah mewanti-wanti agar tim jangan sampai terlambat tiba di kota apel itu. “Mas,  Ashar nanti  harus sampai di sini lo ya. Teman-teman di sini sudah siap-siap sejak sebulan lalu,” katanya memperingatkan Sekjen IIBF, Aswandi As’an dari ujung telepon. “Siaap,  Mas Slamet,” jawab Aswandi singkat.  Usai berpamitan rombongan langsung bergerak ke arah Malang. Di tepi jalan menjelang jalan tol rombongan berhenti di sebuah warung soto Madura untuk menikmati makan siang . (AA)
 
Last Updated ( Friday, 20 May 2011 06:26 )