Saturday, 20 September 2014
IIBF Riau Deklarasikan “Beli Indonesia”
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Pekanbaru, 29/05/2011, Minggu sore, Gedung Juang 45 yang terletak di jalan Jendral Sudirman  Pekan Baru , Riau,  ramai oleh para pengusaha, ulama  dan mahasiswa.  Di dalam gedung itu terbentang satu lembar   spanduk 4 x 6 m yang bertuliskan “Beli Indonesia”.  Ya.., dalam gedung  itu sedang diselenggarakan deklarasi  Gerakan Beli Indonesia Propinsi Riau yang dimotori oleh IIBF  Wilayah Riau.  “Sebelum ini kita sudah mensosialisasikan Beli Indonesia  ke banyak kalangan baik door to door  ataupun melalui media. Kita  ingin mengajak masyarakat  Riau untuk ikut serta dalam gerakan ini,” kata Ketua IIBF  Wilayah Riau, Mukhlis Sofyan.  Deklarasi ini menurut Mukhlis mengambil  momen  kehadiran Presiden IIBF, Heppy Trenggono yang datang ke Riau untuk  melantik  Pengurus IIBF Riau.

Deklarasi Beli Indonesia ini ditandai dengan penandatangan  spanduk Beli Indonesia oleh  Presiden IIBF, Heppy Trenggono yang diikuti oleh semua orang yang hadir dalam ruangan itu, antara lain Asri Nawas, SE, MM, Ketua Dewan Pembina IIBF Riau,  Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi dan sejumlah ustadz dan ulama dari beberapa organisasi Islam di Riau, serta mahasiswa yang berasal dari beberapa perguruan tinggi di Pekanbaru.  Dalam orasinya, Heppy Trenggono  mengingatkan kembali tentang mimpi Indonesia untuk menjadi negara yang menguasai teknologi tinggi  ketika IPTN didirikan  dan mulai memproduksi pesawat.  “Ketika Indonesia dikenal sebagai negara produsen pesawat maka apapun yang diproduksi Indonesia akan dibeli oleh negara lain. Anak-anak kita yang bekerja di luar negeri akan dihargai tinggi karena mereka  berasal dari sebuah negara yang memiliki kompetensi dalam teknologi,” kata Heppy.

Namun semua mimpi itu harus dikubur dalam-dalam ketika IMF hadir dengan sejumlah bantuan yang diikuti berbagai agenda yang harus dilakukan oleh Indonesia.  Salah satunya  adalah menghentikan produksi  pesawat oleh IPTN.  Padahal saat itu, IPTN telah memiliki order  lebih dari 120 unit CN 235 dari negara lain setelah mengikuti Paris Air Show  1993 di Paris, Francis.  CN 235 yang paling canggih di kelasnya ketika itu adalah saingan terberat dari ATR 72  milik Francis.  Direktur IMF yang meminta penghentian produksi peswat IPTN ketika itu adalah Michael Camdessus, seorang veteran yang berasal dari negara yang sama dimana ATR 72 diproduksi, Francis.  “Hari ini kita telah menjadi konsumen terbesar untuk pesawat Boeing, dan 16 unit ATR 72 saat ini sudah terbang di langit Indonesia   setelah maskapai penerbangan kita membeli pesawat itu,”  ungkap Heppy.

Dengan penduduk sebesar ini, kata Heppy Indonesia sangat diinginkan oleh negara lain, terutama jika menjadi konsumen. Sekaligus sangat ditakuti  jika negara ini bangkit menjadi negara produsen.  Namun keinginan negara lain untuk  menjadikan  Indonesia  sebagai negara konsumen hari ini sudah tercapai, ketika  Indonesia menjadi negara terkonsumtif  nomor 2 di dunia.  “Siapa nomor satunya? Nomor satunya adalah Singapura, dan ternyata yang belanja di Singapura itu 60% adalah orang Indonesia,” ungkap Heppy.  Heppy  menambahkan bahwa tidak ada negara kaya di dunia jika negara itu sangat konsumtif dan boros.   Karena sampai hari ini kekayaan sebuah negara tetap diukur berdasarkan angka produksinya bukan konsumsinya.  Konsumerisme Indonesia semakin lengkap dengan menjamurnya mall-mall dimana-mana dan matinya industri di berbagai kota.

Jika kondisi ini terus berlangsung  dimana Indonesia tidak bisa menaikkan angka produksinya maka akan terjadi masalah sosial yang berawal  dari masalah ekonomi.  Dan Beli Indonesia, kata Heppy adalah sebuah pembelaan dan upaya meraih kejayaan ekonomi Indonesia dengan cara merebut kembali pasar Indonesia yang telah dikuasai oleh asing. Indonesia tidak akan pernah berjaya selama yang berkuasa di Indonesia itu bukan orang Indonesia.  Mengapa kita harus memiliki sikap pembelaan? Karena hari ini Indonesia tidak memiliki sesuatu yang jelas untuk dibela.  “Jika martabat bangsa yang kita bela mengapa  aparat kita yang sedang menjaga perairan ditangkap oleh negara lain kita biarkan. Mengapa TKW kita digunting bibirnya kita hanya ribut dua hari saja?” tanya Heppy.  Heppy menambahkan Jika kejayaan ekonomi bangsa yang kita bela seharusnya kita tidak membeli pesawat negara lain yang belum  berlisensi  dan melupakan pesawat buatan bangsa sendiri yang jauh lebih baik.    Beli Indonesia adalah  perang semesta  yang  melibatkan semua rakyat  untuk menghadapi perang terbuka yang  bernama pasar bebas.  “Orang lain boleh menerapkan strategi apapun untuk mempromosikan produknya, tapi keputusan ada di tangan kita untuk membeli,” kata Heppy berapi-api yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Usai acara Mukhlis Sofyan, Ketua IIBF Riau menjelaskan semua jajaran pengurus akan berkeliling ke kota-kota sekitar untuk mensosialisasikan gerakan ini.  “Kita telah sampai ke Bengkulu dan Padang.  Teman-teman Padang bahkan minta secepatnya untuk diadakan deklarasi ini,” kata Mukhlis.   Selain itu menurut Mukhlis sebagian pengurus juga sedang mempersiapkan keberangkatan tim ke Solo untuk ikut serta dalam Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia tanggal 22-26 Juni 2011.  “Insya Allah Allah meridhoi,” kata pengusaha muda ini.  (AA)
 
Last Updated ( Wednesday, 01 June 2011 09:02 )