Beli Indonesia itu adalah Nation Anxiety
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Bandung, 04/06/2011. Salah satu pertanyaan yang muncul ketika orang pertama kali mendengar  kalimat Beli Indonesia adalah, apakah Beli Indonesia itu sebuah konsep bisnis untuk kompetisi produk?   jawabnya, Bukan!. “Beli Indonesia adalah sebuah konsep pembangunan karakter  ketika karakter itu sudah hilang dari kehidupan bangsa Indonesia saat ini.  Beli Indonesia adalah jawaban atas nation anxiety atau kegelisahan bangsa ketika  rakyat Indonesia setiap hari  menyaksikan bangsa ini diwarnai oleh keburukan,” kata Presiden IIBF Heppy Trenggono di depan peserta kajian Kebangkitan Ekonomi Indonesia, di Bandung, Sabtu siang.  Beli Indonesia,  lanjut Heppy  bukan sebuah slogan untuk mengajak orang mencintai produk Indonesia tetapi adalah sebuah sikap pembelaan terhadap produk milik bangsa sendiri.  “Jika Indonesia mau keluar dari keterpurukannya saat ini maka satu-satunya jalan adalah bangsa ini harus membela produknya sendiri,” jelas Heppy.

Hari ini, bangsa Indonesia  tidak tahu apa yang dibelanya.  Departemen Perdagangan setiap hari beriklan tentang slogan “cinta 100% produk Indonesia” tetapi pada saat yang sama justru  membebaskan produk asing menyerbu pasar Indonesia.  Bahkan pembelaan terhadap asing itu dilakukan membabi buta dengan membeli produk-produk yang jauh lebih buruk dari yang diproduksi oleh bangsa sendiri.   MA 60 yang jelas-jelas tidak memiliki lisensi dibeli dan dipakai oleh negara.  Padahal CN 235 buatan PTDI jauh lebih baik.  “Departemen ini berjualan untuk bangsa sendiri atau menjual untuk bangsa lain?” tanya Heppy.  Mengapa bisa terjadi seperti ini?  Karena bangsa ini sudah kehilangan karakternya  sehingga tidak jelas lagi apa yang dibelanya.  Maka kebijakan-kebijakan yang dibuatnya menyebabkan negara semakin terpuruk.

Hari ini Indonesia sudah tidak lagi membangun karakter unggul  bangsanya.  Karena itu yang terbangun adalah karakter buruk.  Setiap hari dilayar-layar televisi muncul kisah-kisah  tentang keburukan baik dilakukan oleh para elit ataupun orang biasa.  “Seolah-olah  bangsa kita sudah tidak percaya bahwa kita bisa membangun bangsa ini dengan nilai-nilai kebaikan,”  ungkap Heppy.  Orang tidak lagi membangun karakter  tetapi yang dibangun adalah citra, merk atau brand.  Maka tidak heran jika ada pejabat publik yang beriklan setiap hari dengan memasang foto di halaman-halaman koran atau majalah.  Juga banyak yang ingin jadi pejabat  dengan memasang fotonya di pohon-pohon  atau di angkutan umum. Mengapa? Karena hari ini kita sudah terseret ke dalam pembangunan merek atau branding dan lupa membangun karakter. 

Maka Beli Indonesia bukanlah slogan membangun merek tetapi membangun karakter, yakni karakter pembelaan pada setiap diri anak-anak negeri ini.  Beli Indonesia bukan sebuah konsep bisnis untuk memenangkan pertarungan  pasar bebas  tetapi adalah sikap pembelaan terhadap bangsa sendiri ketika kehidupan bangsa ini sudah dikuasai orang lain. “Kita tidak bisa keluar dari keterpurukan dan kemiskinan jika hari ini kita menggunakan konsep bisnis,  dan itu bukanlah jawaban.  Kita akan memenangkan pertempuran  dan keluar  menjadi bangsa besar dan jaya jika kita memliki karakter,”  kata Heppy yakin.  Heppy menambahkan, karakter itu juga menyangkut keyakinan diri. Indonesia tidak bisa bangkit karena tidak yakin bahwa dirinya adalah bangsa besar.  Hutang negara  Rp. 1.700 triliyun seolah-olah seperti kiamat yang tidak bisa diselesaikan. Dan APBN  Rp.1.200 triliyun dianggap sangat besar.  “Untuk negara sebesar Indonesia angka itu adalah angka anak kecil. Mengapa besar? Karena kita bermain seperti anak kecil dan tidak cukup memiliki keyakinan sebagai  bangsa besar,” jelas Heppy.   Padahal untuk membangun negara sebesar ini, kata Heppy, perlu puluhan ribu trilyun setiap tahunnya.  Dengan APBN Rp. 1.200 triliyun Indonesia tidak kemana-mana, apalagi sebagian besar uang itu digunakan untuk konsumsi. 

Kajian Kebangkitan Ekonomi Indonesia  di aula Telkom ini diselenggarakan oleh IIBF Jawa Barat.  Hadir juga beberapa pembicara  antara lain asisten dua gubernur Jawa Barat sebagai Keynote Speaker, Direktur Telkom, dan  ketua Tim ahli pemprov Jawa Barat, Dr. Husein AlBanjary.  Dr. Husein yang hadir sebagai panelis bersama Heppy Trenggono mengungkap bahwa  Gerakan Beli Indonesia ini adalah semangat baru yang  muncul di tengah-tengah kepesimisan terhadap masa depan bangsa ini. “Ini adalah sesuatu yang baru yang berbeda dengan gerakan-gerakan lain karena penggeraknya adalah para pengusaha, sebuah klompok masyarakat  yang  selama ini  dianggap tidak peduli terhadap masalah nasionalisme,” kata Husein.  Husein meyakini gerakan ini akan menjadi gerakan massif karena didalamnya ada core mover atau penggerak inti yang terus melakukan pendidikan  kepada  masyarakat. Dari keseluruhan gagasan yang ada dalam Beli Indonesia ini, menurut mantan ahli helikopter IPTN ini, adalah jawaban dari kegelisahan yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia.  “Banyak orang ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Gerakan ini menjadi semacam artikulasi dari kegelisahan itu,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua IIBF Wilayah Jawa Barat Riza Zacharias dalam sambutannya mengatakan bahwa  spirit Beli Indonesia  ini sudah ada dalam setiap diri masyarakat Jawa Barat dalam bentuk kearifan lokal dan nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat Jawa Barat.  “Kita mengadakan acara ini untuk mengingatkan dan menghidupkan lagi semangat itu ketika banyak masyarakat kita sudah mulai lupa dengan identitasnya, nilai-nilainya  dan apa yang seharusnya mereka bela,” kata Riza.  IIBF Jabar kata Riza akan terus menyebarkan semangat ini  dengan cara memulai dari diri sendiri, keluarga, perusahaan  hingga ke seluruh Jawa Barat dengan cara menjalin sinergi bersama pemerintah provinsi dan komponen masyarakat. (AA)
 
Last Updated ( Monday, 06 June 2011 12:21 )