Sunday, 26 October 2014
Beli Indonesia Di Yogyakarta Diwarnai Penurunan Spanduk
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Jogjakarta, 8/06/2011. Gerakan Beli  Indonesia, Rabu siang hadir  di Daerah Istimewa Jogjakarta. IIBF wilayah Yogyakarta sebagai penyelenggara acara ini memilih  MM (Magister Managemen) UGM di Jalan Kaliurang, sebagai tempat pelaksanaan.  Hadir sebagai Pembicara Presiden IIBF, Ir.H.Heppy Trenggono, MKom dan pengusaha senior Semarang, owner  PT. Karya Thoha Putra,   Hasan Thoha, MBA.  “Kami  bekerjasama dengan MM UGM ini dengan tujuan gerakan ini lebih dikenal oleh masyarakat Jogja dan sekitarnya.  Semangat UGM sebagai universitas kerakyatan untuk menegaskan bahwa gerakan ini adalah gerakan yang lahir atas kegelisahan masyarakat  bawah  ketika  melihat perkembangan  kehidupan sosial ekonomi hari ini,” kata ketua IIBF DIY, A.R Iskandar.  Iskandar mengungkapkan adanya spanduk Beli Indonesia yang hilang di beberapa titik strategis di Jogjakarta.  Sore dipasang malamnya sudah raib, padahal spanduk itu dipasang secara legal yang dilengkapi dengan nomor register  Dispenda.  “Kita tidak tahu  siapa yang menurunkan spanduk itu. Tetapi itu sama sekali tidak akan menurunkan semangat kami untuk menggelorakan gerakan ini. Malah sebaliknya akan membuat kami semakin militan,” kata Iskandar dengan penuh keyakinan.

Presiden IIBF, Heppy Trenggono menegaskan dalam presentasinya bahwa penurunan spanduk itu adalah bukti adanya  pihak-pihak yang menghendaki  bangsa Indonesia tetap dalam kebodohan  dan tetap terjajah.  “Jangankan spanduk, dulu tahun 1997 IPTN mereka turunkan dan dipaksa untuk tidak berproduksi. Tujuannya jelas mereka tidak menginginkan anak negeri  ini menjadi tuan  di negeri sendiri,” kata Heppy berapi-api.  Heppy  mengatakan adanya kebingungan kita sebagai bangsa atas apa yang terjadi di dunia dan di Indonesia saat ini.  Kehidupan dunia ini sesungguhnya adalah kehiduoan ekonomi. Maka siapa yang tidak menguasai ekonomi maka dia tidak memiliki kehidupan.  Dan sayangnya Indonesia hari ini  tidak menguasai  ekonomi itu. Maka tak heran jika modal besar yag diberikan Allah SWT kepada bangsa ini hanya menjadi alat dan strategi bangsa lain untuk kemajuan negerinya dan belum menjadi  alat dan strategi untuk kejayaan bangsa sendiri.

“Hari ini kita sudah tidak mengenal lagi siapa diri kita. Kita kehilangan jati diri sebagai bangsa, maka melihat anak-anak kita disiksa dan diperkosa di negara lain kita hanya ribut dua hari dan terus melupakannya. Aparat kita yang menjaga perairan ditangkap polisi negara lain kita biarkan diperiksa oleh negara lain,” ungkap Heppy.  Jika kita mengenal siapa jati diri kita, lanjut Heppy,  maka kita tidak akan membiarkan anak-anak  kita   sengsara di negeri orang  karena mereka itu adalah orang yang sama jati dirinya dengan kita, bangsa Indonesia.  Mereka ke luar negeri jadi TKI dan TKW karena  mereka  sulit mencari penghidupan di negeri sendiri, mengapa sulit kehidupan? Karena kita tidak cerdas mengelola ekonomi  dalam negeri.  Ekonomi kita sudah dikuasai orang lain. Tidak hanya sumber alamnya penduduknya pun sudah jadi pasar orang lain yang produknya dibiarkan bebas masuk di setiap celah kehidupan anak negeri ini. “Indonesia tidak akan pernah keluar dari keterpurukan dan kemiskinan  dan tidak akan menjadi bangsa besar  selama yang berkuasa di Indonesia bukan orang Indonesia,”  jelas Heppy.

“Kita juga tidak memiliki keyakinan bahwa kita ini bangsa besar yang sama dengan bangsa lain yang memiliki kesempatan sama untuk menjadi bangsa besar dan jaya,” ungkap Heppy.  Indoenesia itu, kata Heppy, bukan sebesar Inggris bukan sebesar Jerman apalalgi sebesar Belanda. Indonesia itu jauh lebih besar dari semua negara Eropa.  Ketidakyakinan itu tercermin pada sikap dan  perilaku yang selalu memuji  produk asing dan mencemooh produk sendiri.  Menghargai tinggi orang asing dan merendahkan bangsa sendiri.  “Jika kita memiliki keyakinan diri yang cukup maka sikap dan perilaku kita  justru sebaliknya, menghargai tinggi  produk bangsa sendiri dan menganggap biasa produk asing, menghargai tinggi anak  bangsa sendiri dan tidak merendahkan diri di hadapan orang lain,” jelas Heppy.  Heppy menegaskan, jika kita tidak memiliki keyakinan yang kuat maka bangsa ini tidak akan kemana-mana.

“Hal lain yang tidak ada pada bangsa ini adalah suatu yang jelas untuk kita bela. Makanya kita tidak kemana-mana,” ungkap Heppy.  Dulu bangsa ini bisa keluar dan bebas dari penjajahan karena ada satu kata yang kita bela bersama, yakni  Merdeka.  Maka  ketika ditawari untuk berdamai oleh penjajah Indonesia bisa dengan  tegas menjawab bahwa kita cinta kedamaian tetapi kami lebih cinta kemerdekaan. Maka  kita lebih memilih mati daripada tidak merdeka.  Hari ini kita tidak memiliki sesuatu jelas untuk kita bela.  “Jika martabat bangsa yang kita bela, mengapa anak-anak kita yang disiksa di luar negeri kita biarkan saja. Jika kejayaan ekonomi yang kita bela mengapa kita melakukan kebodohan dengan membela habis-habisan MA 60 dan melupakan CN 235 milik bangsa sendiri?”  kata Heppy retoris. China, kata Heppy tidak akan pernah membuka pasar bebas 20 tahun lalu karena mereka tahu apa yang dibela.  Pedagang-pedagang mereka yang  dituding WTO melanggar merek dibela habis-habisan oleh pemerintahnya.  Kita justru sebaliknya, menghabisi  pasar sendiri dan anak bangsa sendiri dan mempersilahkan orang lain masuk ke dalamnya.

Heppy menegaskan, Beli Indonesia bukanlah sikap anti asing karena dalam beberapa hal kita masih membutuhkan,  tetapi ini adalah  pembangunan karakter  bangsa sendiri. Karena bangsa Indonesia tidak jelas mau kemana dan tidak ke mana-mana karena kehilangan Karakternya.  “Saya tidak khawatir jika  anak negeri ini ada yang anti asing, yang saya takutkan jika mereka anti Indonesia. Dan itu yang terjadi hari ini,” jelas Heppy.   Mereka merasa hebat jika memakai produk asing dan malu dengan produk bangsa sendiri.  Alasanya bisa beragam, mulai dari mutu yang rendah, harga yang murah, akses yang mudah dan lain-lain tanpa dia tahu bahwa sikapnya itu akan membuat diri dan bangsanya tidak kemana-mana.  “Untuk sebuah pembelaan membeli produk bukan kerena lebih murah bukan karena lebih baik tapi karena milik bangsa sendiri,” kata Heppy.

Hasan Thoha Putra yang tampil sebagai pembicara pertama mengungkapkan bahwa Beli Indonesia sebagai sebuah sikap fanatisme terhadap bangsa sendiri.  Karena semua bangsa di dunia memiliki sikap itu.  “Beli Indonesia adalah menciptakan pasar dari kita, untuk  kita dan oleh kita sebagaimana yang dilakukan Rosulullah SAW ketika pertama kali membangun Madinah,” ungkap Hasan.  Nabi Muhammad SAW dulu, kata Hasan, pertama kali datang ke Madinah adalah membangun mesjid, menguasai pasar dan menjalin persaudaraan.  Hasan Thoha yang juga dikenal sebagai ulama ini menyayangkan jika ummat Islam saat ini justru meninggalkan apa yang telah dicontohkan Rosulullah.  Menurutnya, banyaknya masalah yang menimpa bangsa Indonesia hari ini karena bangsa ini telah meninggalkan ajaran Alqur’an dan Hadist.  Maka jawaban atas segala masalah ini adalah bagaimana ummat ini kembali kepada ajaran itu. (AA)
 
Last Updated ( Monday, 13 June 2011 10:53 )