Saturday, 25 October 2014
Kita Belum Pernah Sebodoh Sekarang
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Pekalongan, 10/06/2011. Bangsa-bangsa  Eropa yang datang ke Nusantara dulu, ketika datang tidak menyebut dirinya sebagai penjajah  tetapi sebagai  sahabat yang akan menyelamatkan  kerajaan dan keluarga kerajaan dari ancaman  kerajaan tetangga.  Kepada kerajaan sebelahnya juga disampaikan hal yang sama meskipun faktanya kerajaan tetangganya tidak melakukan apa-apa.  Jepang bahkan datang dengan slogan jepang sebagai  saudara tua yang  melindungi  bangsa Asia. Tapi  apa yang terjadi kemudian?  bangsa-bangsa penjajah  itu menguasai dan mengambil hasil-hasil bumi  Indonesia  untuk dijadikan  sebagai kekayaan negerinya. Penjajahan itu berlangsung ratusan tahun karena  sebagian besar rakyat negeri  ini  tidak menyadari dan menganggap keadaan itu baik-baik saja. Sehingga tidak perlu melakukan apa-apa dan cukup menerima saja.  Hingga  ada sekelompok kecil anak negeri ini  yang  sadar dengan penjajahan itu dan berjuang melawan  penjajahan untuk memerdekakan negerinya.

Hari ini, banyak juga rakyat Indonesia bahkan para pemimpinnya yang tidak sadar dengan penjajahan yang sedang terjadi di negeri ini dan menganggap keadaan baik-baik saja.  Karena  bangsa asing itu datang dengan slogan-slogan  yang seolah-olah akan menyelamatkan bangsa ini.  “Mereka datang dengan slogan demokrasi, hak azazi manusia, globalisasi ekonomi dan lain-lain. Tapi dibalik semua itu adalah nafsu untuk menguasai semua kekayaan negeri ini,” kata Presiden IIBF, Heppy Trenggono  di depan  1.000 lebih peserta kajian Akbar Ekonomi  kota Pekalongan, Jum’at siang.   Bedanya, kata Heppy, dulu penjajah datang untuk menguasai tanah air kita,  hari ini mereka datang menguasai kehidupan kita.  Lihat saja apa yang kita pakai hari ini, mulai dari sabun, pasta gigi, shampoo, tekstil, makanan, minuman dan lain-lain hampir semuanya produk asing.  “Bahkan buah-buah  lokal sudah  mulai tidak kelihatan lagi di pasar-pasar tradisional kita,” jelas Heppy.

Tidak usah kita bicara barang-barang teknologi tinggi yang memang pasarnya 92% dikuasai asing, air minum yang sedemikian mudahnya saja kita tidak menguasainya. “Sebuah produk air minum milik asing menguasai 93% pasar air minum dalam kemasan di dalam negeri. Kalo produknya itu roket atau nuklir kita bisa faham, tapi ini air  minum . Pasti ada yang salah dengan negeri ini,” kata Heppy kesal.  Yang lebih gila lagi para pemimpin kita tidak tahu dengan apa dan siapa yang dibelanya.  Jelas-jelas pesawat MA 60 buatan China yang tidak berlisensi dibela habis-habisan.  Katanya tidak enak dengan negeri asal pesawat itu. “Ini pemerintah,  lebih memilih menjaga perasaan tidak enak dengan orang lain atau tidak enak dengan bangsa sendiri?” tegas Heppy.   Maka, lanjut Heppy  dengan beberapa fakta yang ada hari ini bangsa ini belum pernah sebodoh hari ini dengan menyerahkan kedaulatan pasarnya kepada orang lain.  Penduduk  yang jumlahnya  terbesar keempat dunia saat ini tidak menjadi kekuatan untuk kejayaan negeri sendiri tetapi menjadi alat dan strategi untuk kejayaan orang lain.

Pembicara  lain dalam acara itu adalah H. Nuzly Arismal alias H. Alay  yang dikenal sebagai pemimpjn pedagang  Tanah Abang,  menekankan penting nasionalisme ekonomi untuk  mengeluarkan negeri ini dari keterpurukan dan kemiskinan.  “Allah SWT telah menyiapkan makanan terbaik untuk kita adalah makanan yang ada di sekiatr kita.  Maka  tidak perlu kita mengkonsumsi makanan yang berasal dari luar, selain itu bukan makanan yang  terbaik juga makanan-makanan olahan sangat kita sangsi kehalalannya,”   Rosulullah SAW, kata H.Alay mencontohkan untuk mengkonsumsi makanan yang ada di negeri sendiri ketika Rosulullah menolak untuk makan korma yang berasal dari negeri lain dan mengutamakan memakan kurma Madinah.  Mengutamakan makanan dan produk negeri sendiri tidak hanya lebih menyehatkan tetapi juga sehat untuk perekonomian negeri sendiri. Bagaimana ekonomi dalam negeri akan bangkit jika produk-produk luar berkuasa di pasar dalam negeri. Maka, lanjut H. Alay sikap nasionalisme itu bukan hanya nasionalisme politik tetapi lebih  penting adalah nasionalisme ekonomi.   Tanpa ada pembelaan terhadap produk bangsa sendiri maka akan sulit negara ini keluar dari keterpurukan.

H. Alay juga mengkritik pemerintah yang meminta pengusaha  dalam negeri  untuk dapat bersaing dengan pengusaha dari luar negeri.  “Kita bisa bersaing tetapi persaingannya tidak seimbang, pengusaha luar datang dengan back up penuh pemerintahnya, sementara kita bertarung sendiri dan pemerintah kita malah memihak pada perusahaan-perusahaan asing itu,” ungkap H. Alay. Pembina komunitas TDA ini juga  mempertanyakan  apa  yang diinginkan pemerintah dengan membuka pasar bebas dengan negara lain.  Sebab keputusan itu hampir tidak mengutungkan pihak Indonesia sama sekali, karena pengusaha dan produk dalam negeri yang lemah. 

Sebelumnya, Walikota Pekalongan, M. Bashir Ahmad dalam sambutannya menyebut Indonesia saat ini berada dalam fase jahiliyah.  Dimana hukum hanya berlaku untuk rakyat kecil  dan yang kuat menzhalimi yang lemah dan tidak jelas lagi siapa yang berkuasa.  Jahil itu artinya bodoh.  Dan salah satu tanda kebodohan itu kita menyerahkan masa depan negeri ini  kepada orang lain. “Jika sudah jahiliyah maka satu-satunya jalan untuk memperbaiki adalah dengan menggunakan cara-cara yang ditempuh oleh Rosulullah SAW,” jelas Bashir.  Bashir mengatakan tidak menghendaki  Pekalongan berada dalam kebodohan itu maka Pemkot mencanangkan satu rumah satu entrepreneur.

Kajian Kebangkitan Ekonomi Indonesia Pekalongan ini dimotori oleh  IIBF Cabang  Pekalongan.  Dr. Udi Suhono, SpB , Ketua IIBF Pekalongan menjelaskan bahwa kajian ini sebagai bagian dari kampanye gerakan Beli Indonesia di wilayah Pekalongan dan sekitarnya. “Setelah ini kita akan mengumpulkan kalangan pelajar dan mahasiswa untuk sosialisasi gerakan Beli Indonesia.  Pemerintah Kota Pekalongan dalam hal ini pak Walikota mendukung penuh IIBF  untuk membangun pengusaha di Pekalongan ini,” kata  Udi.  Beli Indonesia, kata Udi, tidak hanya menolong pengusaha tetapi menolong negara dan anak-anak negeri yang hari ini suli t mencari penghidupa di negeri sendiri.  Dalam acara ini panitia juga mengikutsertakan sejumlah pedagang makanan khas Indonesia yang ditempatkan di sebelah timur tempat acara.  Acara ini diakhiri dengan peluncuran Gerakan Beli Indonesia  dengan pendatanganan komitmen dalam sebuah kanvas  putih oleh seluruh hadirin.(AA)
 
Last Updated ( Monday, 13 June 2011 10:14 )