Panitia KKEI Gelar Pra Kongres di Solo
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Solo, 7 Juni 2011
,  Panita Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia  (KKEI) menggelar acara pra kongres di auditorium Universitas Muhammadyah Surakarta, Solo Jawa Tengah,  Selasa malam.  Acara yang dihadiri 1000 lebih undangan itu menghadirkan tiga orang pembicara; Prof. DR. Bambang Setiaji, Rektor UMS, dr. Mohammad  Usman, anggota dewan pakar Hizbuttahrir Indonesia (HTI),Surabaya, dan  Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom.

Prof. Bambang Setiaji yang tampil sebagai pembicara pertama menyorot tentang  sikap sebagian ulama yang  enggan berbicara tentang uang.  Akibatnya banyak ulama yang tidak memiliki keahlian dalam mengelola uang  dan tidak cakap  secara ekonomi sehingga  ekonomi  tidak dikelola secara Islam karena pengelola ekonomi  yang ada tidak memahami prinip ajaran Islam.  “Hampir semua  ulama pada awal sejarah Indonesia  adalah para saudagar yang sangat piawai dalam ekonomi. Dan  hari ini ulama kita banyak yang menghindari untuk menjadi pebisnis,” kata Bambang.  Dalam percaturan ekonomi hari ini, kata Bambang, Islam hanya bermain di pinggiran dan tidak menjadi  pemain utama.  Menurut Bambang  ummat Islam harus melihat kembali sejarah kehidupan Rosulullah dan sahabatnya yang sebagian besar  adalah pebisnis ulung di masanya dan menjadi pemegang kendali utama ekonomi.  “Ummat Islam itu jangan hanya jualan minyak wangi, siwak  dan tasbih saja,” kata Bambang yang disambut gerr para hadirin.  Bambang juga mengingatkan bahwa uang itu adalah alat transaksi yag harus dikendalikan  dan ummat harus diajarkan bagaimana cara megendalikan uang.  Karena banyak orang yang memuja dan mengejar uang  karena tidak faham dengan hakekat uang.  

Sementara itu  Dr.  Muhammad Usman dari HTI Surabaya menekankan  tentang perlunya rasa syukur  dalam membangun Indonesia.  Menurutnya, ketiadaan rasa syukur menjadi salah satu sebab ketidakberkahan Indonesia hari ini.  Indonesia yang dianugerahi Allah SWT banyak sekali kekayaan  tetapi tetap sebagai terpuruk sebagai negara miskin. Masalah-masalah sosial  yang setiap hari muncul sebagai akibat lanjut dari masalah ekonomi semakin hari semakin mengkhawatirkan.  “Dalam ilmu kedokteran, jika  seseorang sakit kepala  dan tidak sembuh-sembuh karena  si penderita hanya pakai obat penghilang rasa sakit. Padahal sakit kepalanya itu penyebabanya adalah  hipertensi.  Maka untuk bisa sehat  total yang harus diatasi adalah hipertensi yang menjadi  penyebab utama sakitnya itu,” kata Usman yang  berlatar belakang seorang dokter ini.  Usman mengatakan, resep-resep yang digunakan selama ini untuk mengatasi masalah Indonesia hanyalah resep untuk penghilang rasa sakitnya saja. Tetapi penyebab utam penyakit itu tidak diobati. “Rasa syukur dan ketaatan kepada Allah dan RosulNya adalah kunci untuk menyelesaikan masalah Indonesia sekarang,”  ucap Usman.  Menurutnya,  Indonesia belum memiliki  sikap  syukur dan taat kepada Allah dan Rosul sehingga setiap hari terus bermunculan masalah-masalah baru.  “Jika kamu bersyukur kepadaKu maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu, tetapi jika kamu ingkar sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,” jelas Usman mengutip ayat Alquran.     

Heppy Trenggono  tampil  sebagai pembicara terakhir  menegaskan tentang  perlunya sikap jujur untuk menyelesaikan masalah Indonesia hari ini.  Presdir United Balimuda Group ini mengkritisi sikap bebeberapa kalangan terutama  para pejabat yang enggan mengakui  bahwa Indonesia hari ini miskin.  Indonesia  menurut Heppy bukan lagi  negara yang sedang berkembang  tetapi sudah masuk dalam kategori miskin.

Sekarang  lanjut Heppy, tidak ada hal-hal yang bisa dijadikan sebagai indikator  bahwa Indonesia  hari ini disebut sebagai negara berkembang.  Jalan-jalan tidak bertambah, rel kereta api semakin hari semakin menyusut,  pabrik-pabrik tidak bertumbuh bahkan banyak yang mati.  “ Kalau dibandingkan tahun lalu ekspor  kita meningkat . Itu kalimat yang sering kita dengar untuk menyangkal bahwa kita tidak kemana-mana,” ungkap Heppy.  Mengukur pertumbuhan itu, lanjut Heppy  jangan membandingkannya dengan diri sendiri, membandingkannya  dengan orang lain.  Kita bangga dengan anak kita kepada tetangga bahwa anak kita sudah besar dari tahun lalu,  sementara anak orang lain sudah bisa berlari, naik sepeda dan lain-lain.  “Tidak usah membandingkan Indonesia dengan Jepang, Amerika atau China, cukup Singapura  saja,  ekspor Indonesia hanya separohnya ,” ungkap Heppy.  Padahal, kata Heppy Singapura itu hanyalah sebuah titik kecil dibandingkan dengan Indonesia yang luasnya  2 jt km persegi.

Jika keadaan ini terus disangkal dan kita merasa baik-baik saja maka Indonesia tetap tidak kemana-mana. “Apa yang akan kita perbaiki jika kita merasa baik-baik saja,” tanya Heppy.  Angka 5,8% pertumbuhan ekonomi tidak artinya jika mayoritas penduduk negeri ini tidak merasakan  dampaknya.  Maka harus jujur dengan diri sendiri untuk bisa keluar dari masalah. “Jujur saja tidak cukup, tetapi harus jujur brutal,” kata Heppy. Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia tanggal 22-26 Juni 2011 itu, kata Heppy adalah upaya untuk menyamakan visi tentang apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkan Indonesia dari keterpurukannya.  Karena untuk menyelesaikan masalah ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu atau dua orang, satu atau beberapa kelompok saja tetapi harus melibatkan seluruh kommponen bangsa ini.

Pra kongres ini juga menghadirkan dua orang pengusaha wanita dari Jawa Timur yang menyampaikan beberapa pokok pikiran tentang apa yang harus terjadi dalam kongres itu. “Kami ingin agar Gerakan Beli Indonesia menjadi conversation di kalangan ibu-ibu agar mereka tahu apa yang mereka lakukan” kata  Erna, salah satu dari pengusaha wanita itu.  Kaum ibu itu kata Erna, adalah penentu belanja keluarga yang memilih produk mana yang akan digunakan oleh  keluarganya.  (AA)
 
Last Updated ( Monday, 13 June 2011 10:52 )