| Panitia KKEI Gelar Pra Kongres di Solo | ||||
|
![]() Solo, 7 Juni 2011, Panita Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) menggelar acara pra kongres di auditorium Universitas Muhammadyah Surakarta, Solo Jawa Tengah, Selasa malam. Acara yang dihadiri 1000 lebih undangan itu menghadirkan tiga orang pembicara; Prof. DR. Bambang Setiaji, Rektor UMS, dr. Mohammad Usman, anggota dewan pakar Hizbuttahrir Indonesia (HTI),Surabaya, dan Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom. Prof. Bambang Setiaji yang tampil sebagai pembicara pertama menyorot tentang sikap sebagian ulama yang enggan berbicara tentang uang. Akibatnya banyak ulama yang tidak memiliki keahlian dalam mengelola uang dan tidak cakap secara ekonomi sehingga ekonomi tidak dikelola secara Islam karena pengelola ekonomi yang ada tidak memahami prinip ajaran Islam. “Hampir semua ulama pada awal sejarah Indonesia adalah para saudagar yang sangat piawai dalam ekonomi. Dan hari ini ulama kita banyak yang menghindari untuk menjadi pebisnis,” kata Bambang. Dalam percaturan ekonomi hari ini, kata Bambang, Islam hanya bermain di pinggiran dan tidak menjadi pemain utama. Menurut Bambang ummat Islam harus melihat kembali sejarah kehidupan Rosulullah dan sahabatnya yang sebagian besar adalah pebisnis ulung di masanya dan menjadi pemegang kendali utama ekonomi. “Ummat Islam itu jangan hanya jualan minyak wangi, siwak dan tasbih saja,” kata Bambang yang disambut gerr para hadirin. Bambang juga mengingatkan bahwa uang itu adalah alat transaksi yag harus dikendalikan dan ummat harus diajarkan bagaimana cara megendalikan uang. Karena banyak orang yang memuja dan mengejar uang karena tidak faham dengan hakekat uang. Sementara itu Dr. Muhammad Usman dari HTI Surabaya menekankan tentang perlunya rasa syukur dalam membangun Indonesia. Menurutnya, ketiadaan rasa syukur menjadi salah satu sebab ketidakberkahan Indonesia hari ini. Indonesia yang dianugerahi Allah SWT banyak sekali kekayaan tetapi tetap sebagai terpuruk sebagai negara miskin. Masalah-masalah sosial yang setiap hari muncul sebagai akibat lanjut dari masalah ekonomi semakin hari semakin mengkhawatirkan. “Dalam ilmu kedokteran, jika seseorang sakit kepala dan tidak sembuh-sembuh karena si penderita hanya pakai obat penghilang rasa sakit. Padahal sakit kepalanya itu penyebabanya adalah hipertensi. Maka untuk bisa sehat total yang harus diatasi adalah hipertensi yang menjadi penyebab utama sakitnya itu,” kata Usman yang berlatar belakang seorang dokter ini. Usman mengatakan, resep-resep yang digunakan selama ini untuk mengatasi masalah Indonesia hanyalah resep untuk penghilang rasa sakitnya saja. Tetapi penyebab utam penyakit itu tidak diobati. “Rasa syukur dan ketaatan kepada Allah dan RosulNya adalah kunci untuk menyelesaikan masalah Indonesia sekarang,” ucap Usman. Menurutnya, Indonesia belum memiliki sikap syukur dan taat kepada Allah dan Rosul sehingga setiap hari terus bermunculan masalah-masalah baru. “Jika kamu bersyukur kepadaKu maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu, tetapi jika kamu ingkar sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,” jelas Usman mengutip ayat Alquran. Heppy Trenggono tampil sebagai pembicara terakhir menegaskan tentang perlunya sikap jujur untuk menyelesaikan masalah Indonesia hari ini. Presdir United Balimuda Group ini mengkritisi sikap bebeberapa kalangan terutama para pejabat yang enggan mengakui bahwa Indonesia hari ini miskin. Indonesia menurut Heppy bukan lagi negara yang sedang berkembang tetapi sudah masuk dalam kategori miskin. Sekarang lanjut Heppy, tidak ada hal-hal yang bisa dijadikan sebagai indikator bahwa Indonesia hari ini disebut sebagai negara berkembang. Jalan-jalan tidak bertambah, rel kereta api semakin hari semakin menyusut, pabrik-pabrik tidak bertumbuh bahkan banyak yang mati. “ Kalau dibandingkan tahun lalu ekspor kita meningkat . Itu kalimat yang sering kita dengar untuk menyangkal bahwa kita tidak kemana-mana,” ungkap Heppy. Mengukur pertumbuhan itu, lanjut Heppy jangan membandingkannya dengan diri sendiri, membandingkannya dengan orang lain. Kita bangga dengan anak kita kepada tetangga bahwa anak kita sudah besar dari tahun lalu, sementara anak orang lain sudah bisa berlari, naik sepeda dan lain-lain. “Tidak usah membandingkan Indonesia dengan Jepang, Amerika atau China, cukup Singapura saja, ekspor Indonesia hanya separohnya ,” ungkap Heppy. Padahal, kata Heppy Singapura itu hanyalah sebuah titik kecil dibandingkan dengan Indonesia yang luasnya 2 jt km persegi. Jika keadaan ini terus disangkal dan kita merasa baik-baik saja maka Indonesia tetap tidak kemana-mana. “Apa yang akan kita perbaiki jika kita merasa baik-baik saja,” tanya Heppy. Angka 5,8% pertumbuhan ekonomi tidak artinya jika mayoritas penduduk negeri ini tidak merasakan dampaknya. Maka harus jujur dengan diri sendiri untuk bisa keluar dari masalah. “Jujur saja tidak cukup, tetapi harus jujur brutal,” kata Heppy. Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia tanggal 22-26 Juni 2011 itu, kata Heppy adalah upaya untuk menyamakan visi tentang apa yang harus dilakukan untuk mengeluarkan Indonesia dari keterpurukannya. Karena untuk menyelesaikan masalah ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu atau dua orang, satu atau beberapa kelompok saja tetapi harus melibatkan seluruh kommponen bangsa ini. Pra kongres ini juga menghadirkan dua orang pengusaha wanita dari Jawa Timur yang menyampaikan beberapa pokok pikiran tentang apa yang harus terjadi dalam kongres itu. “Kami ingin agar Gerakan Beli Indonesia menjadi conversation di kalangan ibu-ibu agar mereka tahu apa yang mereka lakukan” kata Erna, salah satu dari pengusaha wanita itu. Kaum ibu itu kata Erna, adalah penentu belanja keluarga yang memilih produk mana yang akan digunakan oleh keluarganya. (AA) |
| Last Updated ( Monday, 13 June 2011 10:52 ) |



