Tuesday, 16 September 2014
“Seandainya Saya Tahu Beli Indonesia Dari Dulu ...”
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Semarang, 12/06/2011. Birokrat senior itu beranjak dari kursinya  maju ke depan meraih mic yang diberikan panitia.  Dia merupakan salah satu  dari  sejumlah  tokoh dan pengusaha senior  Jawa Tengah  yang  hadir  pada acara ramah-tamah di hotel  Semesta Semarang, malam itu.   Dia  akan   memberi  tanggapan  terhadap presentasi Beli Indonesia yang baru saja disampaikan oleh Presiden IIBF,  Ir.H.Heppy Trenggono, MKom.   Dalam pengantarnya dia menceritakan tentang perjalanan kariernya  mulai dari seorang akademisi, wakil gubernur bahkan sempat menjadi penjabat Gubernur Jawa Tengah  ketika  Mardiyanto, Gubernur Jawa Tengah ketika itu ditarik ke pusat sebagai Mendagri.  “Saya ini selama 2 tahun adalah pengajar kepemimpinan untuk jajaran eselon dua di seuruh Indonesia.  Materinya  tentang Good government dalam menyambut ACFTA, ya semacam persiapan atau prakondisi birokrasi Indonesia untuk menghadapi pasar bebas,” kata Ali Mufidz, Birokrat senior itu.  Menurutnya, setelah mendengar penjelasan tentang Beli Indonesia tadi  ada rasa sesal  dalam dirinya karena dulu mengira pasar bebas itu banyak keuntungannya untuk Indonesia.  Namun ternyata sebaliknya, lebih banyak mudhorat daripada manfaatnya.

Saat itu, kata mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah ini,  tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan,  dan semua orang mengira itulah yang harus terjadi dan baik untuk kita lakukan.  “Seandainya saya tahu Beli Indonesia ini dari dulu, maka pasti saya tidak akan mengajarkan seperti  apa-apa yang  ajarkan dulu,” kata Ali Mufidz dengan nada sesal.  Ali menilai bahwa Beli Indonesia sebagai social movement atau gerakan kerakyatan  untuk mengembalikan jati diri kita sebagai bangsa.   Maka, katanya, gerakan ini harus kita dukung sebab percuma saja pemerintah membangun ekonomi tetapi produk kita tidak ada yang terjual. Produk tidak laku maka pabrik akan mati. Pabrik mati,  lapangan pekerjaan semakin sempit, sementara setiap tahun perguruan tinggi mengeluarkan ratusan ribu sarjana-sarjana baru yang perlu tempat untuk mereka bekerja.  Karena lapar itu tidak bisa menunggu.  Jika tidak tersedia  lapanga kerja akan memicu keresahan  social.  “Maka daripada kita ribut-ribut menyampaikan ke pusat lebih baik kita dorong gerakan ini menjadi gerakan besar untuk membuat perubahan di dalam diri bangsa ini,” kata Ali bersemangat.

Dalam keadaan semua orang bingung harus berbuat apa untuk bisa keluar dari masalah yang ada di Indonesia  saat ini, Ali menyebut  sekarang sebagai moment yang tepat untuk mendorong  gerakan Beli Indonesia. “Wis wayahe,” katanya dalam bahasa Jawa.  “Pak Heppy, karena njenengan sudah memulainya maka bapaklah yang harus di depan untuk membawa gerakan ini, “ kata Ali sambil menoleh ke arah Heppy Trenggono  yang menjawab dengan anggukan kecil.  Ali kemudian meminta kepada semua tokoh dan pengusaha yang hadir dalam ruangan itu untuk ikut dan mendukung gerakan Beli Indonesia ini. Dengan yakin Ali mengatakan bahwa  Beli Indonesia adalah sebuah jawaban atas keresahan yang dirasakan oleh semua lapisan msayrakat hari ini.  Orang tahu masalahnya tetapi tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana dan darimana memulainya.  Baginya Ali, mendukung gerakan ini sebagai penebusan terhadap apa yang dia lakukan dimasa lampau.

Selain Ali Mufidz yang berkesempatan memberi respon terhadap presentasi Beli Indonesia adalah dua orang pengusaha senior kota Semarang, Joko Wahyudi dan Hasan Thoha.  Dalam tanggapannya Joko Wahyudi menggarisbawahi tentang beberapa  data yang disampaikan dalam presentasi itu. “Saya ini seorang pengusaha yang juga bermain di farmasi tapi kalah dengan produk-produk dari luar negeri.  100% apa yang disampaikan Pak Heppy tadi benar adanya. 92% pasar farmasi itu dikuasai asing. Maka tidak ada cara lain untuk merebut kembali pasar kita kecuali dengan mendukung gerakan ini,” kata pengusaha berambut putih ini.  Ketua Apindo Jawa  Tengah ini  juga meminta agar gerakan ini terus  dikampanyekan kepada seluruh rakyat Indonesia karena saat ini masyarakat kita terlena dengan apa yang ada di depan mata yang biasa mereka lihat di media atau di papan reklame, tanpa ada yang memberi tahu apa yang seharusnya  mereka lakukan untuk diri dan bangsanya. “Pak Heppy, saya mendukung penuh gerakan ini dan saya siap untuk di belakang anda,” kata Joko sambil mengepalkan tangannya.

Sementara Hasan Thoha Putra mengingatkan semua pihak agar terus menjaga gerakan ini dengan niat bersih dan ikhlas. Karena menurutnya, banyak gerakan yang muncul hanya sesaat dan kemudian hilang karena tidak ada keihklasan didalamnya.  “Saya pribadi akan menjaga Pak Heppy dan timnya dengan cara selalu mengkritik jika ada penyimpangan. Saya tidak ingin melemahkan beliau dengan pujian-pujian karena banyak orang akan  semakin kuat dengan kritik tetapi hanya sedikit yang bisa bertahan dengan pujian,” kata Hasan dengan serius. Hasan juga meminta agar gerakan ini dijalankan dengan istiqomah.  

Pertemuan para tokoh dan Pengusaha Semarang ini digagas oleh Pengurus IIBF Wilayah Jawa Tengah sebagai bagian dari rangkaian Pra Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia di Solo 22-26 Juni 2011. Selain pengusaha dan birokrat, hadir beberapa pejabat perbankan di Semarang.  Acara berkakhir pukul 22.30 wib dengan satu komitmen untuk mendukung Gerakan Beli Indonesia. (AA)

Last Updated ( Saturday, 18 June 2011 12:23 )