Friday, 24 October 2014
Gerakan Beli Indonesia Deklarasikan Perang Semesta
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Solo, 26/06/2011. Tepat pukul 08.11 wib, barisan kirab sebagiannya sudah berada di lapangan Kota Barat, tempat  acara deklarasi nasional Gerakan Beli Indonesia. Nugie Al-Afghani dan Ust. Nurhadi yang memandu acara itu membuka dengan mengajak semua hadirin dan para pedagang untuk membuaknya dengan membaca Basmallah. “Kita tidak bisa menunggu sampai semuanya berkumpul karena barisan belakang kirab masih berada di Gladak dekat patung Slamet Ryadi,” kata ketua panitia KKEI, HM.Adib Aji Putra. Di tribun utama duduk sejumlah tokoh yang sebagian besarnya terdiri dari pengusaha dan  ulama. Diantaranya; KH. Makmun Khotib dan Ustadz Izzat dari Jakarta, Ustad H. Sukino, pimpinan majlis MTA Solo, ketua MUI Jawa Tengah dan beberapa ulama dari jemaah pengajian dan pesanteren di sekitar Solo Raya. Di kalangan pengusaha tampak Joko Wahyudi, ketua Apindo Jateng, pengusaha Solo Suparmin, dari Surabaya Wito Haryadie, Semarang, Joni Isunaji, Jogjakarta AR. Iskandar, Pekalongan, Udi Suhono dan lain. Di tengah-tengah ulama dan pengusaha itu duduk Pemimpin gerakan Beli Indonesia, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom. Di sebelahnya duduk Guruh Sukarnoputra  dan jurnalis senior Chrys Kelana. 
 
Deklarasi Beli Indonesia ini adalah manifestasi kegelisahan anak-anak negeri ini melihat keadaan negeri yang semakin kehilangan kedaulatannya. Kesepakatan pasar bebas yang disetujui pemerintah dengan China (ACFTA) dan beberapa negara lainnya telah menempatkan Indonesia dalam perang terbuka ekonomi. China maju ke medan laga dengan perlengkapan perang yang lengkap, logistiknya cukup, tentaranya kuat dan panglima perang  yang piawai. Sementara Indonesia datang dengan pasukan yang tidak seberapa, lemah dan tidak terlatih, perlengkapan seadanya,    dan dipimpin oleh Jenderal linglung.  Seharusnya dalam keadaan seperti itu Indonesia tidak melayani ajakan perang terbuka tetapi menempuh perang gerilya. Sehingga begitu perang dimulai, semua produk-produk China menyerbu pasar Indonesia seperti hantaman air bah, dan dalam waktu singkat pasar Indonesia sudah dikuasai dengan matinya industri-industri dalam negeri dan pengusaha yang bertumbangan setiap hari. Lihat saja pasar Indonesia hari ini, 80% tekstil sudah dikuasai asing, 80% farmasi sudah asing dan 93% industry teknologi sduah dikuasai asing. Air minum dalam kemasan 93% pasarnya dikuasai produk asing. Susu formula sudah dikendalikan yang dengan menguasai petani susu di Indonesia. Begitu berkuasanya produk asing di Indonesia hampir semua yang dipakai dan dikonsumsi rakyat Indonesia adalah produk asing. Tidak hanya itu, asing juga sudah menguasai 76% tambang di Indonesia, bank-bank di Indonesia 50,2% sudag asing. Laut kita yang kaya dengan ikan dan hasil laut lainnnya hari menguap Rp.50 triliyun setiap tahun karena aksi pencurian ikan oleh nelayan-nelayan asing.
 
Ketika pasar sudah dikuasai asing maka akan sulit bagi produk Indonesia hidup di negeri sendiri. Produk tidak laku maka industri akan mati. Industri mati berarti lapangan kerja menyempit. Lapangan kerja menyempit pengangguran meningkat. Maka berbondong-bondong anak negeri ini bekerja di luar negeri sebagai TKI atau TKW mencari hidup di negeri lain karena sulitnya mencari penghidupan di negeri sendiri. Angka pengangguran yang tinggi menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan dengan sendirinya   ekonomi masyarakat tidak berkembang. Ekonomi masyarakat tidak berkembang maka keuangan pemerintah juga tidak akan bertumbuh.   Itulah akibat dari perang terbuka yang bernama pasar bebas yang pemerintah kita menyertujuinya. 20 tahun lalu China dikenal negara Tirai Bambu karena negara ini sangat tertutup untuk pihak luar. Tetapi begitu produknya siap dan berlimpah, China hari ini setiap hari mengajak orang untuk perang terbuka yang membuat khawatir semua negara termasuk Amerika. Hanya ada satu negara yang tidak khawatir dan dengan gagah berani meladeni ajakan China dan negara-negara lain untuk perang terbuka. Negara itu namanya Indonesia. Padahal kondisi Indonesia lemah di berbagai lini. Negara yang seharusnya melindungi para pengusaha dan produk sendiri , malah membela produk lain bahkan dilakukan dengan membabi buta. Pesawat MA-60 yang jelas-jelas tidak berlisensi justru dibela dengan mengabaikan CN 235 buatan sendiri yang jauh lebih baik.
 
Karena situasinya sudah terlanjur dihadapkan pada perang terbuka dan sangat sulit menghindarinya maka perang tidak bisa lagi mengandalkan tentara yang ada. Beli Indonesia, adalah strategi perang semesta yang melibatkan semua komponen bangsa maju ke medan laga membantu tentara kita dan menyelamatkan negara. Mulai dari pengusaha, alim ulama, santri, pemuda dan mahasiswa hingga ibu-ibu rumah tangga turun untuk berperang. Serangan promosi boleh segencar dan setinggi langit, produk mereka boleh ada dimana-mana tetapi keputusan ada di tangan kita, mau membeli dan memakai yang mana. Beli Indonesia adalah gerakan membangun kesadaran dan pembelaan anak bangsa terhadap bangsa dan saudara sendiri. Beli Indonesia membangun keyakinan bahwa kita adalah bangsa besar dan mampu meraih kejayaan sebagaimana orang lain melakukannya. Beli Indonesia juga adalah gerakan menemukan kembali jati diri kita sebagai bangsa Indonesia dengan segala kebesaran dan kelebihannya.
 
Sebelum pembacaan deklarasi, AR. Iskandar, pengusaha asal Jogjakarta membacakan rekomendasi Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) yang ditujukan kepada para ulama , pemimpin organisasi dan agama. Rekomendasi ditukuakn kepada pemerintah dan DPR, keluarga dan ibu-ibu rumah tangga, pemuda dan mahasiswa, insitusi pendidikan dan seluruh rakyat Indonesia untuk melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan pembelaan terhadap bangsa dengan membela produk-produk Indonesia. Setelah itu. Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Ir. H. Heppy Trenggono MKom membacakan Deklarasi Beli Indonesia yang diikuti oleh semua yang hadir di lapangan Kota Barat, yang terdiri masyarakat umum dan pedagang yang ikut dalam pasar rakyat yang digelar oleh panita KKEI.
 
Gerakan Beli Indonesia memiliki tiga sikap perjuangan: 1. Membeli Produk Indonesia, bukan karena lebih baik bukan karena lebih murah tetapi karena milik bangsa sendiri. 2. Membela Bangsa Indonesia, sikap yang jelas dalam pembelaan, membela martabat bangsa membela kejayaan bangsa. 3. Menghidupkan Semangat Persaudaraan. Aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku dan kita ada untuk saling menolong .  Deklarasi juga ditandai dengan pemukulan kentongan selama 1 menit oleh semua hadirin. “kentongan bermakna untuk membangunkan, memberi peringatan, mengajak, memanggil semua orang untuk ikut bergabung dalam gerakan ini, “ kata Ust. Nurhadi dalam penjelasannya kepada hadirin.
 “Pulang dari tempat ini, ibu-ibu sudah mulai perhatikan apa yang ibu akan beli untuk keluarga ibu. Ibu tahu apa yang pertama kali dibeli?” tanya Heppy dalam orasinya. Ibu-ibu yang berada di sayap barat lapangan menjawab serentak, “Produk A…..” Produk A artinya produk yang dibuat di Indonesia dan dimiliki oleh orang Indonesia.   Deklarasi ini juga ditutup dengan pengajian oleh ustad Sukino tentang Beli Indonesia dan juga dialog Ust. Sukino dan Heppy Trenggono dengan masyarakat.
 
Hari sudah menjelang siang karena waktu sudah menujukkan pukul 11.20 wib. Acara berakhir dengan memberikan banyak kegembiraan. Terutama pedagang Pasar Rakyat yang menempati stand-stand  di lapangan itu. “Alhamdulillah mas, kalo kayak gini terus seneng jualan. Kapan ada lagi mas, jangan lupa kabari ya?” Kata ibu Sumini yang jualan nasi goreng dan bakso.   Hari ini di Solo,  100 tahun lalu di tahun 1911, juga sudah pernah berdiri organisasi SDI (Syarikat Dagang Islam) oleh H. Samanhudi dan kawan-kawan ketika pengusaha pribumi banyak tersisih oleh kebijakan kolonial. Hari ini Beli Indonesia muncul mendeklarasikan perang semesta karena produk Indonesia sudah tidak menjadi tuan di negerinya, dan negara kehilangan kedaulatan ekonominya. (AA)
 
Last Updated ( Thursday, 30 June 2011 07:55 )