Tuesday, 21 October 2014
Aparat Harus Memiliki Keyakinan dan Kebanggaan
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Mampang X, 21/07/2011. Modal dasar seorang polisi dan tentara dalam melaksanakan tugasnya adalah keyakinan dan kebanggaan. Yakin bahwa tugas yang diembannya adalah tugas mulia yang diberikan negara kepadanya. Mulia itu tidak hanya dimata manusia tetapi jauh lebih dari itu adalah mulia di mata Tuhannya. Meyakini bahwa tugas itu bagian dari pengabdian kemanusiaan, pengabdian kepada negara dan pengabdian kepada Tuhan. Selain itu, seorang bhayangkara atau prajurit harus memiliki kebanggaan, kebanggaan kepada korp, kebanggaan kepada tugas dan kebanggaan kepada negaranya. Tanpa dua hal itu, maka dalam melakukan tugasnya parajurit akan bimbang dan tidak memiliki kekuatan. Pernyataan ini disampaikan Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom di rumahnya saat menerima kunjungan Kapolsek Mampang Prapatan , Kompol Siswono dan jajarannya, Kamis malam. Kapolsek tiba bersama empat orang anak buahnya sekitar pk. 20.00 WIB.
 
“Masalahnya bagaimana polisi dan tentara kita bisa memiliki kebanggaan jika yang kita bicarakan hari ini adalah peralatan bekas dari negara lain? Atau hibah kapal bekas dari negara yang jauh lebih kecil dari Indonesia?” kata Heppy dengan nada tanya. Mengapa itu bisa terjadi? karena kita sudah tidak mampu lagi membeli peralatan baru karena negara kesulitan anggaran. Apa yang bisa kita lakukan dengan anggaran 1.200 Truliyun di negara seluas 2 juta km persegi dengan penduduk 240 juta jiwa. Sebagian besar anggaran digunakan untuk konsumsi dan bayar hutang. Itu belum termasuk yang hilang karena korupsi. Makanya infra struktur tidak banyak yang dibangun, jalan-jalan tidak banyak yang nambah, rel kereta api semakin menyusut, pelabuhan tidak tumbuh secara berarti. “Dibutuhkan puluhan ribu triliyun untuk membangun negara sebesar ini,” kata Heppy. Negara ini juga harus dijaga oleh angkatan bersenjata yang kuat untuk menangkal ancaman dari luar. Angkatan perang yang kuat adalah angkatan yang memiiiki keyakinan dan kebanggaan yang didukung oleh peralatan dan senjata yang baik.
 
Menanggapi pertanyaan Kompol Siswono tentang penyebab ketidakmampuan negara untuk memperbesar anggaran polisi dan TNI, Heppy menegaskan bahwa ada masalah serius dalam ekonomi Indonesia, yakni Indonesia tidak bisa membangun kekayaannya. “Hari ini kita sudah menjadi bangsa miskin,” kata Heppy. Menurut Heppy banyak indikasi yang menunjukkan bahwa Indonesia saat ini telah menjadi bangsa miskin. Yang paling mencolok itu adalah APBN kita yang sangat kecil Rp 1.200 triliyun yang sangat tidak sebanding dengan ratio luas wilayah dan jumlah penduduk negara ini. Akibatnya pendidikan tidak bisa lagi disubsidi dan kampus harus mencari biaya sendiri. “Otonomi kampus itu adalah bahasa lain pengurangan subsidi karena negara sudah tidak punya duit,” ungkap Heppy. Tingginya angka pengangguran dan berbondong-bondongnya anak negeri ini mencari pekerjaan ke luar negeri karena mereka sulit mencari penghidupan di dalam negeri. Karena apa? karena negara tidak bisa menyediakan lapangan kerja buat mereka. Pengangguran sudah meluas ke berbagai lapisan bahkan menimpa mereka yang berpendidikan tinggi.
 
“Tapi negara ini kan kaya, Pak?” sela salah seorang anggota. “Betul negara kita kaya dan penduduk kita terbesar keempat dunia, tetapi kekayaan negara dan jumlah pendududuk yang besar itu belum menjadi alat dan strategi untuk kejayaan bangsa sendiri malah menjadi alat dan strategi bangsa lain untuk memperkaya negeri dan bangsanya,” jawab Heppy. Pendduduk kita, kata Heppy telah menjadi pasar untuk produk bangsa lain dengan membanjirnya berbagai produk luar ke dalam negeri. Demikian juga sumber daya alam kita telah dikuasai oleh perusahaan asing. Namun atas nama investasi kita menyerahkan banyak hal kepada asing yang seharusnya tidak boleh kita serahkan. Maka Apa yang kita bangun dan kita bela dalam situasi seperti ini? Kejayaan ekonomi? Kesejahteraan? Tidak jelas!
 
“Mengapa bisa terjadi seperti itu, pak?” tanya anggota tadi penasaran. “Karena kita tidak cerdas dalam ekonomi,” jawab Heppy tegas. Sejatinya, lanjut Heppy, dunia ini adalah permainan ekonomi. Maka siapa yang menguasai ekonomi maka dia menguasai dunia. Kita terpuruk seperti hari ini karena kita tidak menguasai ilmu kehidupan itu sendiri, yakni ekonomi. Maka negara kita menjadi bulan-bulanan orang lain. Pasar kita dikuasai melalui ACFTA atau pasar bebas yang kita pikir pasti baik dan menguntungkan . Aset-aset kita dikuasai melalui privatisasi yang digambarkan seolah-olah sangat baik buat rakyat dan negara kita. Namun ternyata semua itu tak lebih sebagai sebuah cara untuk menguasai pasar dan asset-aset strategis kita. Celakanya, kita mengikuti dan melayani permainan itu, bukan karena kita lebih unggul dalam permainan tetapi karena tidak faham.
 
“Bagaimana cara untuk menghentikan semua itu, pak?” tanya anggota tadi lagi. Anggota yang berpakaian sipil itu terlihat sangat antusias. Sebelumnya dia hanya mondar- mandir mengambil gambar komandannya yang sedang berbincang dengan Presiden IIBF itu. “Paling tidak ada lima hal yang harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan ekonomi kita. Empat hal diantaranya hanya bisa dilakukan oleh pemerintah seperti membangun infrastruktur, menjaga kurs, membangun budaya hidup murah, produksi massif,” ungkap Heppy. Tetapi ada satu hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja yakni pembelaan terhadap produk negeri sendiri dengan cara membeli dan memakai produk-produk yang dibuat oleh anak bangsa sendiri. Maka mulailah dengan diri sendiri yang ditularkan ke orang-orang terdekat. Dengan demikian maka industry akan tumbuh. Industri tumbuh lapangan pekerjaan banyak tersedia. Lapangan pekerjaan berarti penghidupan. Maka pelan-pelan ekonomi negara akan terangkat yang dimulai dengan bertumbuhnya ekonomi masyarakat.
 
Jam dinding di ruang tamu itu sudah menunjukkan pukul 22.36 wib ketika Kompol Siswono dan anak buahnya pamit. Kunjungan itu adalah kunjungan pertama Kompol Siswono sejak bertugas di kepolision sektor Mampang Prapatan. Sebuah kegiatan yang rutin dilakukannya setiap kali bertugas di tempat yang baru, anjangsana ke tokoh-tokoh masyarakat setempat. (AA)
 
Last Updated ( Sunday, 29 April 2012 12:45 )