Thursday, 18 September 2014
Beli Indonesia Itu Adalah Nasionalisme dan Keimanan
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Jakarta, 29/07/2011. 2.000 lebih jemaah majelis zikir “As-samawaat” menghadiri pengajian penutupan bulan Sya’ban di pusat majelis itu di kawasan Puri Kembangan Jakarta Barat, Jum’at dinihari. Tempat itu juga sekaligus adalah kediaman pimpinan majelis, KH. Saadih Al-Batawi. KH. Saadih adalah seorang mursyid tasawuf yang memiliki dewan asatiidz dari berbagai kalangan. Murid-muridnya yang duduk dewan Asaatiz sebagian berasal dari pesantren yang biasa dengan kitab kuning, ahli fiqih, pegawai dan ekskutif BUMN, pengusaha, ahli manajemen, akademisi, dan lain-lain. Mereka ini membantu KH.Saadih mengajar para jemaah majelis yang berjumlah puluhan ribu di seluruh Indonesia. Khusus pengobatan, majelis ini memiliki tim khsusus yang fokus membantu Sang Kyai melayani ummat yang ingin berobat. Dokumentasi memiliki tim sendiri yang ahli dalam audio visual. Untuk pengamanan 1.000 lebih asykar stand by dalam setiap kegiatan. Bertanggung jawab untuk logistik dan akomodasi majelis ini memiliki abdi dalem yang dikepalai seorang kepala rumah tangga.
 
Pada pengajian penutupan itu, Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom menjadi penceramah di depan pimpinan dan anggota majelis itu. “Tahun 2006 saya pertama kali ketemu dengan Kyai Saadih dan saya meminta beliau menjadi guru saya. Ketika kami berangkat haji bersama tahun 2007, di Mina beliau meminta saya untuk sholat di luar tenda dan beliau menangis sambil berkali-kali minta maaf karena telah telah meminta saya untuk tidak sholat di dalam tenda. Saya bilang, Pak kyai saya sudah ridho Pak Kyai jadi guru saya. Tugas saya adalah mengikuti ucapan guru dan bukan tugas saya untuk berfikir,” ungkap Heppy dalam pengantar ceramahnya. Maka, lanjut Heppy ketika kita sudah menyatakan diri telah mengangkat seseorang menjadi guru kita tugas kita adalah sami’na wa atho’na terhadap yang beliau ucapkan. Dengan demikian keberkahan akan datang dan petunjukpun akan diturunkan oleh Allah SWT.
 
Sebagaimana permintaan majelis agar Pemimpin Gerkan Beli Indonesia itu menyampaikan tentang Beli Indonesia, Heppy menjelaskan bahwa Beli Indonesia adalah sebuah gerakan yang terinspirasi dari majelis ini yang selalu mengajarkan tentang mencintai Allah, Rosul dan negeri dimana kita tinggal. Dalam kacamata ekonomi, kata Heppy, Indonesia hari ini dalam kondisi mengkhawatirkan karena banyak orang Indonesia yang tidak mencintai negerinya. “Banjirnya produk-produk asing di Indonesia hari ini karena orang Indonesia tidak membela produk sendiri. Sehingga jadilah negara ini surga buat produk orang lain dan produk dalam negeri tidak bisa menjadi tuan di negerinya sendiri,” ungkap Heppy. Mengapa produk luar itu berjaya di Indonesia? Karena dibela oleh orang Indonesia. Sebaliknya banyak produk Indonesia yang berguguran dan mati karena tidak dibela oleh orang Indonesia sendiri. Seolah-olah apapun yang datang dari luar semuanya bagus dan baik dan seolah-olah apapun yang berasal dari bangsa sendiri kualitasnya selalu buruk. Faktanya, tidak seperti seperti itu karena itu hanya ada dalm opini atau persepsi saja. Opini dan persepsi terbentuk dari apa yang kita lihat dan kita dengar sehari-hari lau kita meyakininya.
 
“Bagaimana bisa terjadi pasar air minum di Indonesia bisa dikuasai 93% oleh produk asing. Mereka mengambil air di sini menjualnya di sini tetapi uangnya mereka bawa ke negeri mereka,” tanya Heppy. Jika produk itu berteknologi tinggi dan rumit, kata Heppy kita masih bisa memahaminya. Tetapi ini adalah air minum yang anak-anak kita saja bisa membuatnya. Demikian juga perusahaan asing yang memproduksi susu dapat menjual 200 trilyun per tahun di negara ini. Pada hal susunya mereka beli dari petani kita dengan harga yang jauh di bawah pasar susu dunia. Lalu mereka jual ke orang Indonesia sendiri. “Seberapa besar 200 trilyun itu? 200 trilyun artinya 8 tahun penjualan perusahaan itu setara dengan hutang-hutang Indonesia sejak jaman nenek moyang kita sampai hari ini,” ungkap Heppy. Indonesia, menurut Heppy semakin hilang kedaulatan terhadap pasarnya ketika pemerintah menandatangani perjanjian pasar bebas dengan China dan beberapa negara lainnya. Sebelum perjanjian itu berlaku dan hanya dengan barang-barang selundupan cukup membuat industri tekstil di tanah air kolaps. Dan begitu ACFTA diberlakukan ribuan industri kecil dan menengah gulung tikar. “Jika keadaan ini terus berlangsung maka Indonesia tidak akan bisa keluar dari keterpurukannya dan sulit menjadi negara kuat dan jaya. Karena apa? karena di Indonesia yang berkuasa bukan orang Indonesia,” ungkap Heppy. Sebelum kemerdekaan, hanya dengan satu perusahaan asing bernama VOC Indonesia mengalami penjajahan panjang yang menyengsarakan. Padahal hari Indonesia ada ribuan perusahaan yang sama dengan VOC yang sudah mencengkeram kukunya di Indonesia.
 
Beli Indonesia, menurut Presiden IIBF ini adalah sebuah gerakan membangun karakter. Yakni karakter pembelaan dalam setiap diri anak negeri untuk membela bangsanya sendiri. “Karakater inilah yang hilang dalam perbendaharaan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Karena hampir semua orang sudah tidak lagi membangun karakter tetapi terseret kepada membangun merek,” jelas Heppy. Bagaimana seorang yang ingin jadi pejabat harus menempel foto dimana-mana, pasang iklan dimana-mana. Tanpa peduli dengan apa yang dikerjakan apakah itu membangun ummat atau tidak. Sehingga banyak orang yang dipilih bukan karena dikenal tetapi justru karena pemilih tidak mengenalnya. Beli Indonesia juga adalah gerakan nasionalisme ekonomi. Dengan gerakan kita akan membangun bangsa dan negara ini yang dimulai dengan membangun ekonominya.
 
Mengulas tentang Gerakan Beli Indonesia, KH Saadih mengatakan bahwa gerakan inilah adalah gerakan cinta negeri. Dimana seorang yang menyatakan memiliki keimanan maka harus mencintai negaranya. “Surat Al Balad yang berarti Sebuah Negeri, Allah bersumpah pada sebuah negeri dimana engkau ada di dalam negeri itu,” kata Kyai Saadih. Maka, kata KH. Saadih sangat aneh kalau ada orang yang tinggal di Indonesia tetapi tidak mau membela negara ini. Jangankan membela menyebut nama Indonesiapun sungkan dan enggan. Guna mendukung gerakan ini Kh. Saadih mengatakan akan membangun beberapa super dan mini market khusus menjual barang-barang buatan anak negeri sendiri. “Tahun depan paling tidak sudah harus berdiri satu,” ungkap KH. Saadih yakin. Kyai yang dikenal gemar bersedekah dan membagi-bagi uang untuk kalangan tidak mampu ini dikenal sebagai Kyai kaya yang piawai membangun bisnis. “Rumahnya memang sederhana tetapi kemana-mana dia pakai BMW seri terbaru. Kalo ke kampung-kampung dia pake Pajero Sport yang peleknya diganti racing,” kata seorang anak muda yang ikut ngaji di majelis itu. Anak muda itu mengaku mengikuti Kyai itu karena dia tahu banyak apa yang dilakukan Sang Kyai. “Orangnya seneng dagang dan bantu-bantu orang. Enggak pernah minta sumbangan ke jemaah, malah dia yang nyumbang jemaahnya yang kurang mampu,” katanya beralasan. (AA)
 
Last Updated ( Sunday, 29 April 2012 12:57 )