Australia yang Butuh Indonesia yang Merengek
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Jakarta, 3/8/2011. “Seharusnya ketika pemerintah Australia menghentikan mengirim sapinya ke Indonesia, adalah momen tepat bagi Indonesia untuk menghentikan ketergantungan terhadap sapi-sapi Australia. Itulah waktunya untuk mengembangkan sapi sendiri oleh petani-petani kita dan membuat petani kita lebih sejahtera,” kata Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Ir. Heppy Trenggono, MKomp, saat berbincang dengan beberapa pejabat senior di lingkungan Kemenakertrans di Kalibata, Jakarta, Rabu siang. Toh, rakyat Indonesia, sambung Heppy tidak akan mati jika tidak makan daging sapi karena masih banyak sumber protein lain yang ada di negeri ini. Sangat aneh jika kemudian ada menteri yang melobi Australia agar membatalkan rencana penghentian itu.
 
Mengapa aneh? Pertama, posisi Indonesia adalah satu-satunya negara pembeli terbesar sapi dari negara itu. artinya, jika kita tidak mau membeli sapi Australia kemana lagi mereka akan menjualnya, karena negara seperti Malaysia jelas-jelas menolak untuk membeli sapi negeri Kanguru itu. Dalam hal ini posisi tawar lndonesia lebih powerful karena kita pembeli dan mereka sangat bergantung dengan Indonesia sebagai pengimpor terbesar. “Maka agak aneh jika ada pejabat kita merengek ke Australia padahal Australia lebih membutuhkan Indonesia daripada sebaliknya,” kata Heppy.

Kedua, Indonesia tidak memiliki sikap jelas dalam pembelaan. “Membela bangsa bangsa lain atau bangsa sendiri?” tanya Heppy. Jika membela bangsa sendiri maka yang harus dibesarkan adalah petani sendiri bukan petani negara lain. Lain ceritanya jika Indonesia tidak cocok untuk pengembangan peternakan. Masalahnya negara ini memiliki iklim dan alam yang sangat cocok untuk peternakan ditambah lagi dengan petani-petani kita di pedesaan yang selalu kesulitan mengembangkan ternaknya karena tidak adanya dukungan dari pemerintah. “Kita lebih memilih membeli ternak dari negara lain daripada membeli ternak petani sendiri,” ungkap Heppy. Karena itu jelas, kebijakan ini menunjukkan kita tidak ada good will untuk membangun ekonomi bangsa sendiri. Menurut Heppy, dengan potensi negara sebesar ini Indonesia sangat tidak layak sebagai pengimpor sapi tetapi adalah negara pengekspor sapi terbesar di dunia.
 
Heppy menilai terjadinya kebijakan semacam ini karena bangsa ini sudah kehilangan karakternya sebagai bangsa besar. Karakter sebagai bangsa besar itu adalah pemahaman tentang jati diri, keyakinan dan nilai-nilai yang dibela. Indonesia hari ini sudah tidak jelas lagi siapa jati dirinya, apa yang diyakini dan apa yang dibelanya. Bangsa ini lupa bahwa Indonesia itu adalah bangsa besar yang jauh lebih besar dari negara-negara tetangganya. Karena tidak memiliki jati diri sebagai bangsa besar makanya cara bermainnya seperti negara kecil. “Jika bangsa ini memiliki jati diri sebagai bangsa besar bernama Indonesia, maka tidak ada pejabat kita mengemis ke Australia,” jelas Heppy. Sikap ini juga membuktikan bahwa kita adalah negara konsumen seperti yang diinginkan oleh banyak negara di dunia agar Indonesia tetap menjadi pasar untuk produk-produk mereka. Sebab, akan sangat berbahaya bagi mereka jika Indonesia berubah menjadi negara produsen. Karena negara ini memiliki 240 juta jiwa penduduk yang bisa dilibatkan dalam proses produksi untuk membuat produk secara masif.
 
“Selama negara ini masih menyandang predikat sebagai bangsa konsumen maka Indonesia tetap menjadi bangsa miskin. Karena indikasi kekayaan dan kesejahteraan sebuah negara tidak diukur dari seberapa besar barang-barang yang dikonsumsinya tetapi dari seberapa besar produk yang dihasilkannya,” jelas Heppy.
 
Menyinggung soal alasan Australia menghentikan eksport sapinya itu, Heppy mengatakan itu bukan hal prinsip. Cukup kita perbaiki standard dan cara pemotongan hewan yang benar di dalam negeri. “Itu sangat jelas aturannya dalam Islam. Tidak boleh menyembelih dengan menyiksa atau menyakiti hewan yang akan disembelih. Harus menggunakan pisau yang tajam agar hewan sembelihan segera mati dan yakin matinya itu karena sembelihan itu bukan karena pukulan atau siksaan,” kata Heppy. Masalah pokoknya, lanjut Heppy adalah masalah ekonomi negara. Sapi Australia artinya ekonomi Australia, sapi petani Indonesia artinya ekonomi Indonesia. Makanya aneh jika Indonesia malah mengemis ke Australia untuk membatalkan penghentian pengiriman sapi ke Indonesia. Selain memalukan sikap ini menunjukkan kita tidak memiliki kecerdasan ekonomi. (AA)
 
Last Updated ( Sunday, 29 April 2012 12:59 )