Monday, 22 September 2014
Prihatin Kasus Pasuruan
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:31    PDF Print E-mail


[H Heppy Trenggono didampingi istri dan keluarga menggunakan helikopter saat pulang kampung di Kecamatan Bawang, Batang (27 sep 08)]

Tragedi pembagian zakat di Pasuruan membuat H Heppy Trenggono MKom (40) prihatin. Namun pengusaha sukses asal Batang itu lebih prihatin melihat kemiskinan di mana-mana. Ia pun membagikan zakat untuk ribuan warga.

PAGI itu, warga Bawang, mendadak riuh. Sebuah helikopter mendarat di Lapangan Pungangan, sekitar pukul 08.00. Siapa gerangan mereka? H Heppy Trenggono MKom (40), pengusaha sukses di jakarta datang didampingi istri Hj Dewi Yuniarti dan keluarganya.

Kedatangan keluarga sukses itu untuk mengikuti pengajian sekaligus membagi zakat dan sedekah di Masjid Baitul Mutaqin, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang.
Suami dari istri Hj Dewi Yuniarti dan keluarga semula naik pesawat turun di Bandara A Yani Semarang. Selanjutnya menuju ke Bawang menggunakan helikopter mendarat di lapangan Pungangan.

Sebelumnya, helikopter itu sudah mendarat sekitar pukul 07.35, membawa keluarga Heppy bersama Kiai Saidi dari Jakarta. Begitu keluar dari helikopter dia langsung disambut meriah warga setempat. Mereka saling berebut untuk bersalaman.

Heppy merupakan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan (alm) Khodiri, pensiunan guru SD dan (alm) Amariyah. Kepulangannya ke Bawang, dalam rangka membagikan zakat dan sedekah bagi warga sekitar dan dua desa di Kecamatan Blado.

Keluarga sukses ini membagikan 2.600 paket sembako dan uang ketupat. Namun, yang datang melebihi dari jumlah yang disediakan. Heppy kini memiliki usaha di bidang perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kaltim, penyedia alat berat untuk perusahaan Astra, Sinar Mas Group, Gudang Garam, Matahari dan lainnya bermarkas di Jakarta. Pabrik makanan di Tangerang. Selain itu juga perusahaan jasa di antaranya penerbangan dan pemasok air bersih untuk hotel dan apartemen baik di Jakarta maupun di Malaysia.
Usaha Keras

Menjadi orang besar, Heppy bukan karena keberuntungan, namun melalui usaha keras dan benar-benar merangkak dari bawah. Dia berjuang dari nol. Ke  Jakarta sekitar tahun 1988 bekerja di United Tractor.

’’Sambil kuliah teknik informatika di Universitas Gunadarma dan lulus menyandang gelar insinyur. Saya tahu benar karena  teman bermain di Bawang dan saat bekerja di Jakarta,’’ kata Chamdan (40).

Belum lulus, dia sudah dilirik PT Indo Mobil dan dijalani selama beberapa tahun. Kepiawaiannya mengelola manajemen, membuat dia ditarik Abdul Latif bos PT Sarinah Group yang mantan Menteri Tenaga Kerja untuk membenahi Pasaraya Sarinah. Sampai akhirnya ikut membidani lahirnya Lativi. Selanjutnya, tahun 1997 dia mengelola United Bali Muda.  Sejak itu, usahanya terus berkembang pesat.

Keberhasilannya itu membuat dia selalu ingat akan tetangganya di kampung halaman. Setiap tahun selalu mengeluarkan zakat dan sedekah. Dia tidak merasa takut memberikan jumlah zakat yang besar.

’’Kami prihatin dengan tragedi di Pasuruan. Tapi, ada yang jauh lebih memprihatinkan melihat kondisi kemiskinan masyarakat kita. Mengapa? Hari ini kemiskinan tidak semakin berkurang justru lebih dahsyat,’’ ujar dia.

Kalau keamanan mudah solusinya. Namun mengatasi kemiskinan masyarakat yang tidak sederhana. ’’Saya rasa energi kita lebih baik digunakan untuk memikirkan bagaimana mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Untuk itu, saya mengimbau tidak takut mengeluarkan zakat. Justru setelah terjadi tragedi Pasuruan, aparat respons sekali. Kita lihat ada ribuan orang yang datang tapi aman kan Mas.’’

Dia memberikan zakat tanpa tendensi apa-apa. Semata-mata ibadah. ’’Rasulullah menganjurkan kalau bisa malah sampai menyuapi atau memberi langsung. Dengan bertemu langsung, bisa hidup hati kita. Bagaimana melihat kondisi masyarakat yang sebenarnya.’’

Bukan sekadar membagikan zakat dan sedekah, tekad Heppy adalah membangun Batang. Sekarang ini, Bali Muda sudah menghabiskan Rp 2 triliun investasi di Kaltim. Diharapkan, sampai tahun 2010, bisa mencapai Rp 20 triliun. ’’Sebaliknya justru Batang (Pemkab) agar bersinergi dengan putra-putra daerah.’’(Arif Suryoto-77)


http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=31757

Last Updated ( Wednesday, 16 June 2010 11:54 )