Wednesday, 22 October 2014
IIBF Membuka Pasar Timur Tengah
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Jeddah, 9 Maret 2010
, Lima buah taksi meluncur menembus udara pagi di jalan-jalan kota Jeddah. Taksi itu membawa 20 orang tim engine IIBF menuju Konsulat Jenderal RI Jeddah, Arab Saudi. Masuk gerbang utama Konsulat, tampak bendera merah putih berkibar gagah. Tepat di bawah tiangnya tertulis “Konsulat Jenderal RI Jeddah” dengan bertata pohon-pohon perdu yang mengelilinginya. Dua batang pohon kurma yang tumbuh di bagian depan halaman sedang mengurai bunga berwarna hijau yang keluar dari tengah mayangnya. Di tangga masuk gedung sudah menunggu 2 orang staf konsulat yang menyambut hangat. Setelah menunggu beberapa saat di ruang transit tim IIBF dipersilahkan masuk ke ruang rapat utama. Di ruang rapat bermeja oval itu itu sudah terpampang kalimat “SELAMAT DATANG IIBF” di white screen di bagian depan. Sekitar sepuluh menit kemudian Konsul Djoko Rahardjo masuk bersama 2 orang stafnya.

Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semua, selamat datang di konsulat maaf kalau sudah menunggu,” Djoko Rahardjo menyapa dengan ramah sembari menyalami satu-satu anggota tim IIBF. Kepada Presiden IIBF, Heppy Trenggono, Djoko Rahardjo menceritakan rasa gembiranya dengan pertemuan ini. Meski menurutnya terkesan mendadak karena pemberitahuannya baru seminggu sebelumnya dan pihaknya tidak bisa mempersiapkan segala sesuatunya secara maksimal.

Selama tiga tahun saya bertugas di sini dan setiap tahunnya ada ratusan ribu jemaah haji dan umroh Indonesia yang datang ke Arab Saudi ini tetapi baru ada lima orang pengusaha yang datang kemari. Hari ini IIBF memecahkan rekor dengan 20 orang anggota dan dipimpin langsung pula oleh presidennya,” Djoko menjelaskan dengan sumringah. DJoko kemudian meminta Presiden IIBF, Heppy Trenggono untuk memperkenalkan anggota timnya sekaligus menceritakan tentang maksud kedatangannya.

Kalau pengusaha menemui konsul ekonomi sudah bisa ditebak apa pembicaraannya,” Heppy berseloroh menimpali. Heppy kemudian memperkenalkan satu persatu anggota tim yang ikut dalam rombongan itu. Diantaranya H. Ahmad Akhyan owner CV. Madco Teknik Bandarsyah Sejahtera, DR. Herry Kusaeri, CEO PT Aulia Aghnia, H.Andri Marjoni CEO PT. Alexindo Mandiri Express, H. Iyus Ruslan Owner RM. Cibiuk, H. Diding Amiruddin, CEO PT. Metrokomindo Lintas Media, : H. Joni Iszunaji, SE, CEO PT. PARADIGMA GLOBAL PERSADA, Dr. H. Saepudin MPH, CEO RS. Fikri Medika, H. Kasran CEO PT. Bumen Citra Mandiri, H. Totok Iswahyudi CEO PT. Satwiga Mustika Naga. DR. Oon Saputra, Staf ahli menankertrans.

Kami ini hanya menunjukkan letak tempat-tempat makanan lezat kepada para pengusaha. Mau dimakan atau tidak terserah kepada para pengusahanya,” Djoko bertamsil menjawab permintaan Heppy tentang gambaran peluang bisnis di Timur Tengah. Saat ini menurut Djoko ada lima kota ekonomi baru yang akan dibangun di Saudi bagian barat. “Lokasinya sekarang masih berupa gurun pasir dan bukit batu. Jadi pembangunannya benar-benar dari nol.” jelas Djoko. Menurut Djoko pengusaha-pengusaha China sangat agresif menerobos pasar timur tengah. Bahkan untuk pembangunan monorel dari Mekkah – Mina – Arafah, China telah memasukkan 500 orang pekerja menjadi muallaf. Djoko juga menceritakan tentang keinginan beberapa pengusaha Arab yang mencari hasil bumi dan rempah-rempah. Hasil bumi dan rempah-rempah hanya terdapat di negara tropis dan subtropis seperti Indonesia. Furniture juga salah satu yang sangat dicari di pasar Timur Tengah. Sayangnya selama ini pasokan lebih banyak berasal dari China. Sedangkan para pengusaha Indonesia belum banyak bermain dalam peluang pasar di negara-negara arab ini. “Furniture asal China itu tidak seratus persen dari kayu. Kayunya hanya lapis luarnya saja di bagian tengah diisi dengan streofoam sehingga harga bisa lebih murah,” ungkap Djoko. Konsumen Arab menurut Djoko adalah konsumen yang senang dengan barang berkesan mewah tetapi harganya murah. Dan China adalah produsen pintar yag bisa memenuhi barang yang diinginkan orang arab.

Pada sessi tanya jawab sebagian besar anggota IIBF menanyakan tentang masalah legal dan kultur masyarakat Arab terutama para pengusahanya. “Seperti yang Pak Djoko sampaikan peluang sangat besar tetapi yang kami ingin tahu bagaimana respon orang arab terhadap kita,” DR, Herry Kusaeri bertanya. Menurut Djoko orang Arab sangat senang berbisnis dengan orang Indonesia karena ada kesamaan kultur dalam hal ini kesamaan agama dan orang Indoensia yang terkenal ramah. Masalahnya selama ini ada beberapa pengusaha Indonesia yang beberapa kali berbisnis dengan pengusaha Arab tetapi tidak amanah. “Ya seperti setitik nila merusak susu sebelanga,” kata Djoko. Untuk masalah legal menurut Djoko relatif saja. Karena aturan ekspor import barang dimana-mana hampir sama.

Pada ujung pertemuan siang itu, Presiden IIBF meyakinkan pihak konsulat bahwa para para pengusaha yang tergabung dalam IIBf adalah pengusaha yang tidak hanya mahir dan fluent dalam bisnis tetapi juga kokoh secara spiritual. Heppy Trenggono juga menjelaskan tentag komitmen IIBf dalam membangun bangsa. “Bangsa pintar adalah bangsa menjual bukan bangsa membeli. Indonesia akan menjadi bangsa maju jika kita bisa mengirim sebanyak-banyaknya produk Indonesia keluar. Indonesia tidak akan pernah maju dan jaya jika hanya mengirim TKI,” kata Heppy. Pada pertemuan itu disepakati kedua belah pihak Konsulat dan IIBF untuk saling membantu untuk membuka pasar Timur Tengah. Salah satunya dengan pertemuan IIBF dan Pengusaha-pengusaha Timur tengah di Bandung 30 Maret 2009 yang difasilitasi Konsulat Jenderal RI di Jeddah.

Menjelang Zhuhur pertemuan itu berakhir yang ditandai dengan foto bersama di halaman kantor konsulat. (AA)

Last Updated ( Monday, 19 July 2010 13:19 )