Mari Bung Rebut Kembali

  by

Pacet, Mojokerto, 12/02/2018 – “Hegemoni Asing” itulah virus yang sedang menjangkiti bangsa Indonesia saat ini. entah itu ekonomi, politik, maupun sosial budaya, telah terkontaminasi oleh aroma kepentingan asing. Disektor ekonomi misalnya Indonesia tercatat lebih banyak mengimpor ketimbang ekspor, buruknya lagi ekspor yang dilakukan bukan berupa barang jadi namun bahan baku. Kita ekspor minyak mentah tetapi impor bensin, solar. Dan banyak lagi dibidang lainnya.

Belum lagi kondisi sektor politik dan sosial budaya yang juga tidak jauh berbeda. Kedaulatan ini kini tengah dikebiri dan diaduk-aduk oleh berbagai ideologi dan kepentingan sehingga Indonesia mengalami kegaduhan politik yang parah, Indonesia juga sangat permisif dengan kapitalisme, liberalisme, dan neokolonialisme yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila. Banyak kebijakan yang akhirnya membuat bangsa terpecah belah, diskrimatif, memiskinkan dan merusak jari diri bangsa.

Sebagai contoh adalah dibolehkannya pemain asing masuk pada sektor dimana rakyat mengantungkan hidup seperti peternakan dan pertanian. Akibatnya banyak yang dulunya petani sekarang menjadi buruh tani, yang dulu peternak menjadi buruh ternak pada perusahaan-perusahaan asing. Itulah penjelasan tuan rumah KH. Mahfudz Syoubari, Pimpinan Pondok Pesantren Riyadhul Jannah, Pacet, Mojokerto atas kegiatan yang telah berlangsung selama tiga hari tersebut. Hadir juga dalam pertemuan tersebut Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga Menteri Koperasi dan UKM, Prof. Muhammad Nuh Mantan Mentri Pendidikan, KH. Ali Akbar Marbun, Prof. Imam Suprayogo, termasuk juga mantan Menko Bidang Kesejahteraan era Soeharto, Letjend (purn) Azwar Anas, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Oleh karena atas prakarsa Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), Forum Pedulii Bangsa (FPB) dan juga Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) untuk merajut pilar utama umat untuk ambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan kebangsaan dari ekonomi hingga politik dengan menyelenggarakan sarasehan yang melibatkan para pimpinan pondok, pengusaha, tokoh masyarakat, pemerintah serta steakholder lain seperti ormas dan majelis ulama Indonesia.

Kyai Ma’ruf Amin dalam sambutannya pun menjelaskan mendesaknya sebuah gerakan ideologis merebut ekonomi untuk kepentingan bangsa sendiri. “itulah kenapa MUI menyelenggarakan Kongres Ekonomi Umat 2017 dengan mengambil tema arus baru ekonomi Indonesia, bukan umat  tetapi Indonesia, karen,a umat Islam yang mayoritas harus bangkit untuk Indonesia”.

Senada hal itu Ketua Umum YP3I Marzuki Alie mengajak semua ormas islam, pimpinan pondok bisa bersatu danmenjadi teladan, selain itu bisa memperjuangkan kesetaraan dalam akses ekonomi sejajar dengan para konglomerat. “kesetaraan dalam akses inilah yang kita butuhkan agar umat ini menjadi pemain dalam pusaran ekonomi nasional”

Heppy Trenggono, Presiden IIBF yang diminta menjabarkan dan mengejawantahkan tema “Mari Bung Rebut Kembali” menjadi sebuah gerakan bersama menjelaskan bahwa dirinya merasa bahagia bahwa belakangan ini tema kedaulatan Ekonomi ramai menjadi bahan diskusi dan kajian di tengah badai globalisasi katanya.

Mengapa demikian, menurut Heppy kondisi ekonomi kita berbanding terbalik dengan narasi indah yang ditawarkan globalisasi, amanat pasal 33 UUD 1945, ekonomi kerakyatan kian porakporanda. Dia mencontohkan, ditengah CAFTA misalnya, dimana produk-produk china telah membanjiri tanah air, upaya perusahaannya mengekspor produk Indonesia ke China tidak kunjung terealiasi, lebih dari 3 tahun, ada saja alasannya, hingga akhinya pemerintah sana menawarakan untuk menggandeng perusahaan lokal, menggunakan merek lokal.

Oleh sebab itu peraih Tokoh Perubahan 2011 tersebut mengingatkan bahwa untuk merebut ekonomi Indonesia menjadikan anak-anak bangsa sebagai tuan dinegeri sendiri ada hal mendasar yang harus dilakukan untuk segera dibenahi.

“ada dua hal mendasar yang harus kita pecahkan agar apa yang kita harapkan, captive bangsa Indonesia menjadi kekuatan ekonomi untuk umat dan untuk anak-anak bangsa kita sendiri”  terang Heppy.

Pertama, persoalan struktural ekonomi. Berbagai masalah mendasar dan sistematis, disadari atau tidak terus mengikat kita pada keterpurukan ekonomi. Secara struktur ekonomi kita berat karena kebijakan pemerintah yang masih lemah dalam membela produk dan karya anak bangsa sendiri serta cenderung menguntungkan pelaku usaha asing.

“ada lebih dari 70 undang-undang yang tidak berpihak sama sekali pada bangsa sendiri” tukas Heppy.

Ketimpangan ekonomi yang lebar juga dampak nyata dari persoalan structural ekonomi di Indonesia.

Kedua, persoalan kultural ekonomi. Kesadaran masyarakat untuk melek ekonomi masih sangat rendah. Selain itu mentalitas untuk membela dan membeli produk anak bangsa masih sangat minim.

“tidak ada negera maju yang tidak membela produknya, apa itu amerika, inggris, china sekalipun, karena membela produk dan jasa anak bangsa sendiri adalah factor penting dalam mengatasi berbagai persoalan ekonomi Indonesia.”

Dengan membela produk anak-anak bangsanya, maka akan tumbuh industry-industri di negeri kita, akan muncul UMKM-UMKM di negeri kita, akan terbuka lapangan perkerjaan pungkas Heppy.