Memahami Blueprint Bisnis

  by

Bogor – Mengapa hanya sebagian kecil pengusaha kaya raya sedangkan sebagian besar dari mereka kelelahan bahkan terjerembab dalam jurang kesulitan usaha tiada henti? Sebuah survey yang dilakukan di Amerika, 80 persen usaha tutup tanpa sempat berulang tahun kelima. Bahkan hanya 4 persen usaha yang bertahan hingga 10 tahun, itupun 50 persennya hanya survival saja, hanya 2 persen yang benar-benar menjadi pengusaha kaya raya. Di Indonesia mungkin tingkat kejatuhan usaha jauh lebih besar lagi prosentasenya.

Lalu apa yang menyebabkannya? Dalam CEO Forum yang diselenggarakan Institut Pertanian Bogor beberapa waktu lalu Presiden IIBF Heppy Trenggono mengungkapkan bahwa 95 persen pengusaha yang berguguran bisa dilihat ciri-cirinya, mereka keluar dari blueprint bisnis yang bisa jadi tidak mereka pahami”.

“apapun bisnis yang dijalani, tidak akan lari dari sini. Asset > sales > profit > cash. Sayangnya banyak pengusaha tidak faham tentang hal ini. Di IIBF saya selalu bilang, hal ini akan saya bicarakan sepanjang hayat” terang Founder Balimuda Group itu.

Itulah perjalanan yang harus ditempuh. Bahwa didalam bisnis yang dibangun adalah Aset, modal yang kita himpun juga dimaksudkan untuk menjadi aset dengan begitu bisa menghasilkan sales, dari sales tercipta profit setelah dikurangi biaya-biaya, dan profit untuk menghasilkan cash atau fresh money sehingga bisa digunakan untuk keperluan apapun. Sayangnya sebagian besar pengusaha tidak menyadari didalamnya tidak mengetahui bahwa itu yang harus dibangun didalam bisnis.

Banyak pengusaha yang sudah senang begitu melihat usahanya profit dan berhenti disitu tanpa sampai menjadi cash. Padahal profit itu ditujukan untuk menghasilkan cash. Cash yang dimaksud disini adalah cash yang berasal dari aktivitas menjalankan usaha (jualan) bukan dari yang lain atau istilahnya Operating Cash Flow (OCF).

Apakah membayar gaji, operasional kantor, tagihan suplier atau pengeluaran yang lain bisa dilakukan langsung oleh profit? Atau dilakukan oleh piutang usaha? Tentu tidak ada yang mau dibayar pakai profit atau piutang diminta nagih sendiri, cash yang dapat melakukannya. Makanya ada perusahaan jualanya bagus, profit ada namun pemilik selalu pusing uang gaji di akhir bulan, karena OCF nya pasti negatif. Tidak semua perusahaan profit OCF pasti positif. dan Tidak semua perusahaan rugi OCF pasti negatif. Itulah kecanggihan management dalam mengelola usahanya.

Ketika akhir bulan kesulitan untuk membayar gaji serta operasional perusahaan yang lain, kemudian di tutupi dengan menjual aset, maka Investing Cash Flow (ICF) perusahaan akan positif. ICF adalah cash yang bersumber dari invetasi. Atau kekurangan gaji dan operasional tadi di tutupi dari hutang, bisa ke owner namanya bridging, atau ke bank atau ke perorangan, maka Financing Cash Flow (FCF) akan menjadi positif. FCF adalah cash yang bersumber dari hutang. Itulah 3 jenis cash yang ada didalam bisnis.

Artinya tidak semua cash dalam bisnis serta merta bisa langsung dinikmati. Bisa saja itu uang modal, bisa saja uang dari menjual aset, bisa saja itu uang suplier yang seharusnya kita bayarkan atau bahkan itu malah uang hutang yang harus kita kembalikan.

“Banyak perusahaan bisa bertahan berpuluh tahun karena tidak ada profit. Namun tidak ada perusahaan yang mampu bertahan tanpa cash”. – HT –

Sayangnya, ada juga pengusaha yang tidak memahami bahwa sales yang dia upayakan adalah untuk menghasilkan profit. Apa iya ada pengusaha tidak memahami hal itu? Kasus First travel adalah contohnya, boro-boro bicara profit, jualannya saja jual rugi.

Bahkan ada yang lebih parah lagi, pengusaha yang tidak memahami bahwa Aset itu untuk menghasilkan sales. Praktik “cashbackiyah” yang pernah marak beberapa tahun lalu adalah contohnya. Mereka membeli aset lebih mahal dari seharusnya melalui kredit di Bank. Misal harga bangunan 1M, namun dengan bank dikasih 1,5M, dimana 500 juta ekstra itu mereka bilang cashback, padahal sejatinya itu beban tambahan. Belum lagi kalau aset yang dibeli hanya sebagai alat hutang saja, tanpa dimaksudkan untuk meningkatkan sales akan membuat keadaan semakin sulit. Kalau sekali tidak mengapa, mungkin karena sedang membutuhkan tambahan modal atau bridging namun jika dijadikan cara bermain, jangankan bicara sukses, bertahan saja sudah pasti tidak.

“Perjalanan bisnis selalu dari Aset > Sales > Profit > Cash. Namun ukuran hebat (sehatnya) bisnis di ukur dari bawah keatas. Pertama, ada duitnya enggak. Menghasilkan duit gak. Duitnya apakah dari profit atau dari yang lain? Sehingga yang harus kita lihat pertama adalah Cash atau OCF nya. Kedua baru profit. Profitnya dari mana, tidak mungkin ada tiba-tiba muncul tanpa melalui jualan. Ketiga, ROA. Itulah bisnis” terang Heppy.

Ketiga indikator kesehatan sebuah bisnis yaitu OCF, Profit dan ROA akan di kupas lebih mendalam dalam 3 Bottom Line.

Memahami blueprint Business, menjadi syarat utama jika ingin usahanya menjadi mesin pencetak uang. Bahwa ternyata Asset yang kita miliki harus didayagunakan untuk menciptakan sales, dimana sales untuk menciptakan profit dan profit harus menghasilkan cash. ANS