Menjadi Orang Baik Saja Tidak Cukup

  by

Kaliurang, Yogyakarta – Hidup adalah sebuah anugerah yang Allah berikan kepada kita, tentu bukan tanpa konsekuensi. “Permainan” ini akan menentukan bagaimana kehidupan kita kelak yang abadi di alam akherat, surga atau neraka. Sehingga sekedar menjalaninya saja bukanlah langkah strategis, tetapi harus mampu mengisinya dengan hal-hal yang bernilai menjadi bekal untuk kehidupan yang akan datang.

Sebagai manusia yang hidup dalam bermasyarakat tentu kita selalu bersinggungan dengan orang lain. Tidak jarang apa yang sahabat pejuang lakukan mendapat reaksi dan respon tidak seperti yang diharapkan. Selalu memikirkan apa kata orang lain menjadi salah satu penghalang menggapai kesuksesan.

Dalam pembekalan Ambassador Camp Jateng & DIY beberapa waktu yang lalu, presiden IIBF menceritakan tentang perjalanan sebuah lembaga ekonomi yang menyita perhatian bangsa Indonesia, didirikan oleh kaum bersarung di pasuruan dengan spirit membebaskan umat dari praktek ribawi, berkembang menjadi sandaran puluhan ribu karyawan, menyentuh hingga ratusan ribu masyarakat kelas bawah dengan putaran mencapai 3 triliun rupiah setiap tahunnya. Sebuah prestasi gemilang. UGT Sidogiri itulah namanya.

Suatu saat, dalam sebuah group WA berisikan kyai-kyai dan pengusaha yang juga terdapat pimpinan sidogiri di dalamnya, ada sekelompok orang yang mempertanyakan ke-syariah-an akad yang digunakan UGT Sidogiri dalam menjalankan aktivitasnya, orang yang juga mengaku berdakwah membangun agama. Panjang lebar Kyai Sidogiri menjelaskan tentang semua aktivitas dan landasan syar’i yang digunakan namun segelintir orang itu tidak serta merta percaya bahkan memaksakan untuk mengecek kebenaran dilapangan. Hingga satu titik sang kyai sidogiri merasa tersudut dan pasrah, mempersilahkan segelintir orang tadi untuk mengaudit di cabang-cabangnya.

Merespon diskusi dalam group WA tersebut, presiden IIBF menukil apa yang pernah disampaikan oleh mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Rais Syuriah pengurus besar Nahdlatul Ulama, Dr. KH. Mohammad Ahmad Sahal Mahfudh yang mengatakan bahwa “Menjadi baik itu mudah, dengan diam saja akan terlihat baik, tetapi yang sulit adalah menjadi bermanfaat karena itu butuh perjuangan”. Apapun komentar dan pendapat orang, termasuk segelintir orang tadi yang juga mengaku membangun agama terhadap UGT Sidogiri, namun karya dan kiprahnya di tengah masyarakat sangat jelas dan sangat dinantikan kehadirannya. Membangun ekonomi umat, mengentaskan kemiskinan, menjauhkan umat dari praktek perbudakan hutang rentenir, ijon dan masih banyak lagi.

Menjadi orang baik, itu mudah. Bahkan tidak perlu berinteraksi dengan orang lain, bisa menjadi orang baik. Tinggal diam dirumah, tidak ribut sesama tetangga, rajin shalat ke masjid, itu sudah dianggap orang baik. Akan tetapi, menjadi orang manfaat harus mempunyai ide dan kreasi. Harus melalui banyak tantangan, kerja keras, bahkan cemoohan. Prinsip menjadi orang manfaat adalah “memberi” baik berupa pikiran dan perbuatan.

Belajar saja tidak cukup, menjadi baik saja tidak cukup, tetapi harus menjadi orang yang bermanfaat dan menjadi manfaat membutuhkan perjuangan. Bisa jadi orang yang pertama kali dihadapi adalah orang-orang yang juga mengatakan ikut membangun agama seperti layaknya sigodiri membangun, maka jika sahabat pejuang mengalaminya, redho kan saja. Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.

Demikian juga niat baik sahabat pejuang di IIBF maupun melalui Debt Free Center untuk selalu berbagi dan membantu orang lain yang dalam kesulitan belum tentu direspon positif, apalagi diapersiasi, namun ingatlah sahabat bahwa pengakuan dari mahkluk bukanlah tujuan kita.

Sebagai insan IIBF yang harus meningkatkan taqwa dari waktu ke waktu, menjadi manfaat adalah sebuah pengejaran. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Lika-liku perjalanan hidup lah yang akan membuat kita tahu arti dari sebuah perjuangan, arti dari sebuah pengorbanan dan usaha untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi, membawa manfaat bagi orang lain, termasuk membahagiakan orang-orang yang kita sayangi.

Tugas kita hanya berbuat baik, serta menjadi bermanfaat bagi orang lain. Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk akhirat. Dunia ini adalah rangkaian episode yang dijalani dan akan dilewati, tempat bekerja, berjuang dan tempat kita bercocok tanam.  Bila kita menanam amal baik, maka buah yang akan dipanen pun akan baik pula. Begitupun sebaliknya, jika amal buruk yang kita semai, maka buah keburukan yang akan kita dapatkan. Karena itu, marilah kita menanam amal kebaikan sebanyak-banyaknya untuk kita panen di akhirat kelak. ANS